BATAKOLOGI
--------------------
Pendahuluan
Pada awalnya manusia menghuni muka bumi berdiam di:
pulau, kepulauan, hingga benua. Mereka tergabung dalam beragam komunitas,
seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Se-mua komunitas ini masih
tercerai-berai dan saling berjauhan satu dari lainnya, karena penduduk bumi pun
kala itu masih sangat sedikit jumlahnya belum seperti sekarang. Komunitas manusia
yang terdapat di muka bumi, apapun ragamnya lalu bertetangga dengan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup
masing-masing. Ada yang bernama kawasan tropis berhawa panas disepu-tar khatulistiwa,
lainnya ialah kawasan subtropis lagi sejuk sampai dingin di belahan bumi bagian
Utara dan belahan bumi bagian Selatan. Terdapat alam sekitar perairan, diawali:
paya atau rawa, tambak, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra. Adapun lagi dataran rendah sangat luas bernama
padang rumput dimana bermacam hewan mencari makan dengan bebas. Dari alam
sekitar disebut belakangan, alam sekitar di muka bumi beralih menjadi dataran
tinggi yang dilanjutkan kawasan pegunungan berudara sejuk beragam ketinggian
diatas per-mukaan laut. Masih ada alam sekitar lain di muka bumi bernama padang
pasir yang berhawa panas dan gersang lagi tandus sangat luas yang bersifat regional.
Selain dari itu, ada pula kawasan muka bumi yang ditutupi salju yang luas, mulai dari bersifat musiman hingga
dengan salju abadi. Yang akhir ini dijumpai pada belahan bumi bagian Utara yang
bertetangga dengan kutub Utara, dan belahan bumi bagian Selatan yang bertetangga
dengan kutub Selatan dari planit biru ini.
Yang menjadi pemandangan sehari-hari insan berdiam di
bumi ketika itu, di bagian muka bumi ma-napun berdiam di bumi pada masa awal
keberadaan di planit ini: pertama manusia
yang menjadi warga komunitas masing-masing, dimulai keluarga hingga masyarakat
tempat berdiam, baik komu-nitas yang masih kecil anggota hingga dengan yang
sangat besar warganya; kedua: alam mengitari
yang menjadi lingkungan hidup komunitas, seperti: padang rumput, hutan hingga
rimba belantara; perairan, mulai dari rawa atau paya, kolam, tambak, sungai,
danau, laut, hingga samudra. Ada alam sekitar berwujud: padang pasir, padang
salju dari musiman hingga dengan salju abadi; juga terdapat alam sekitar campuran
dari apa yang sudah disebutkan sebelumnya; ketiga:
segala menampakkan diri di angkasa hingga dengan ketinggian langit, dimana: gugusan
awan berarakan, matahari dan bulan timbul tenggelam, himpunan bintang gemerlapan
bercahaya di malam hari, bintang berekor (komet) melintas, dan banyak lagi lainnya,
yang tidak mungkin dirinci satu persatu; semuanya de-ngan setia menampakka diri
di angkasa hingga ketinggian langit. Ketiga ragam “pemandangan” yang mengitari kehidupan
insan di muka bumi pada masa itu, yakni: “manusia”, “alam sekitar”, dan “bermacam
benda langit” menampakkan diri pada ketinggian; tidak diragukan lagi mengirimkan
pesan kepada insan yang dialamatkan kepada “akal-budi” masing-masing, dimanapun
berdiam dise-putar planit biru ini, mulai dari bumi bujur Barat hingga dengan bumi bujur Timur, demikian pula dari bumi lintang
Utara hingga dengan bumi lintang Selatan. Ketiga macam pemandangan lalu menorehkan
pesan, kesan, yang membentuk citra terekam dalam kepada: Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa
(Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), dengan jumlah benturan
(kuan-titas) dan mutu (kualitas) bervariasi dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa,
dan bangsa yang berdiam di seantero
planit bulat bagaikan bola, menelusuri perjalanan waktu ratusan ri-bu tahun menerobos
zaman sampai dengan hari ini.
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, beragam komunitas
berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku bangsa, dan
bangsa, masih sedikit bilangannnya, maklum manusia yang mendiami muka bumi masih
sedikit kala itu. Pada ketika Nabi Muhammad SAW me-nerima Surah Al-Alaq dalami
Gua Hiraq yang dibawakan oleh malaikan Jibril tahun 610 Masehi silam, penduduk
bumi ditaksir berjumlah sekitar 200.000.000 orang semuanya. Dengan bumi ber-bentuk
bola dengan garis-tengah rata-rata: 12.740 km yang baru diketahui orang
belakangan ratusan tahun kemudian, luas permukaannya: 510 juta km2. Sebagian besar permukaan
bumi ini (70%) berupa air, dan hanya sebagian kecil (30%) berupa daratan. Dengan demikian kepadatan
pendu-duknya pada masa itu barulah: 1,3 orang per km2. Itulah sebabnya
mengapa jauh sebelum Ra-sulullah menerima
berbagai Surah yang menjadikan kitab Suci Al-Quran umat Islam, insan ber-diam
di muka bumi jumlahnya jauh lebih sedikit lagi, dan keberadaan masing-masing sangat
ber-jauhan satu sama lain.
Selain dari itu, tiap komunitas mulai kecil bernama keluarga
hingga besar dinamakan bangsa, di-pagari pula oleh jarak tempuh berjalan-kaki yang
lama dan sangat melahkan untuk berjumpa de-ngan warga atau anggota komunitas lainnya.
Hal ini disebabkan oleh kenyataan, bahwa “revolusi industri” belum muncul di daratan
di Eropa, dan belum lagi terdapat jalan-raya (prasarana) dan ken-daraan (sarana)
dijalankan “motor bakar” dengan bahan bakar “bensin” dan “mesin diesel”
berbahan bakar “solar” dimana-mana diseluruh penjuru dunia ini yang memudahkan
orang beper-gian ke tempat yang jauh seperti sekarang ini. Grafik dibawah ini
memperlihatkan pertumbuhan “penduduk bumi” dalam Bilyun orang, menelusuri
perjalanan waktu dua ribu tahun, yang berhasil dikerjakan Google untuk
diketahui semua orang segala kepercayaan berdiam di muka bumi.
Courtesy
of Google
Perlu diketahui, orang yang ingin bepergian ke
tempat jauh ketika itu, baik sendiri maupun bera-mai-ramai harus berjalan kaki puluhan
hingga ratusan kilometer jaraknya. Medan ditempuh antara lain berulang kali
harus keluar masuk hutan hingga rimba belantara di Nusantara, menelusuri jalan setapak
antara kampung yang biasa dilewati penduduk setempat. Muka jalan dilalui tidak
selalu datar, ada kalanya terpaksa menuruni lembah terjal dan merangkak menuruni
tebing untuk tiba ke tepi anak-sungai atau sungai yang perlu diseberangi, dan setelah
menyeberang, kembali merangkak mendaki tebing terjal seberang untuk sampai di
permukaan jalan rata. Perjalanan masih harus dilan-jutkan meniti galangan
sawah, menembus semak belukar, bertemu jalan tanah berair lagi berpasir penuh batuan,
yang menjadi tantangan lain. Tidak jarang berjalan kaki berhari lamanya disertai
me-nginap di berbagai kampung orang yang perlu dilalui. Perjalanan darat ketika
itu memang menguras tenaga badani dan tidak
terkecuali waktu yang tidak sedikit dihabiskan untuk sampai ke tujuan. Apabila perjalanan
yang sama dilakukan dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, atau empat, dan diatas
jalan-raya mulus sebagaimana sekarang ini setelah revolusi industri muncul di
Eropa silam, waktu perjalanan dihabiskan menjadi jauh lebih singkat, dan tidak melelahkan
badan, karena dibantu jalan-ba-ja atau jalan-raya dengan sarana transportasi berteknologi
sudah maju.
Pandangan Tiga Sekawan
Ketiga ragam “pemandangan” yang dijumpai oleh setiap
komunitas, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, mengelilingi masing-masing dimana-mana di muka bumi
se-luruh dunia saat itu: “manusia”, “alam sekitar melingkungi”, dan “beragam benda-langit
yang me-nampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit, menemani keseharian
hidup insan saat awal keberadaan bermukim di muka bumi. Ketiga macam pemandangan
menjelma menjadi: “pe-mandangan yang tiga”, atau “tiga serangkai pemandangan”,
atau “tiga-sekawan pemandangan” pe-ngetuk “akal-budi” (brain-heart) yang diperlukan
insan untuk “berfikir” dan “bekerjasama” menja-lani hidup Alam Fana di muka bumi.
Ketiganya lalu membidani lahirnya pengetahuan, yang dalam perjalanan waktu muncul
jadi ilmu (science) tentang: manusia, alam sekitar melingkungi, dan ber-macam benda-langit
yang menampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit. Ketiga “pemandangan”
dengan setia mengawal insan dari siang sampai malam: berhari, berminggu, ber-bulan,
bertahun, berabad, bermillenia, dan beratus millenia, berkembang dalam benak
manusia menjadi: Tiga Sekawan Pandangan,
disingkat TSP, penggugah “akal” dan pengetuk “budi” insan, atau penggugah-ketuk
“akal-budi” insan yang tidak pernah istirahat berkegiatan. Dengan melola kecerdasan
berfikir (motivation), dan menuangkan gagasan (inspirasi) kedalam benak (otak),
mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menyebabkan
manusia terdorong “bertindak atau berbuat
sesuatu” (to do something). Lewat pengolahan “akal-budi” (brain-heart) “karunia
Ilahi” bersemayam dalam “hati-sanubari insan”: “akal” (brain) bertugas
memecahkan persoalan dan tantangan betapapun peliknya, “budi” (heart) menghimpun
manusia guna menggan-dakan kemampuan lewat kebersamaan, dari: perorangan, keluarga,
masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa demi memperkasakan akal. Dengan demikian, aneka
ragam permasalahan sehari-hari yang dihadapi di Alam Fana bermukim di muka bumi,
mulai kecil lagi sederhana hingga yang besar dan rumit setra muskil dapat dipecahkan
secara bersama.
Dengan bumi berbentuk bola bergaris-tengah
rata-rata: 12.742 km, maka luas permukaannya: 510 juta km2.
Sebagian besar muka bumi berupa perairan
(70%), dan hanya bagian kecil (30%) daratan. Dengan jumlah
manusia berdiam di muka bumi dalam hitungan puluh hingga ratus juta orang menjelang
“revolusi industri” di Eropa silam, kepadatan penduduk di muka bumi ketika itu masih
termasuk rendah, sehingga komunitas manusia bermukim di muka bumi saling berjauhan
satu sama lain. Dalam keterpisahan hidup di bumi silam, insan dipagari pula jarak
tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan, maka manusia yang dibekali Tuhan
dengan: Tondi (Jiwa, Ruh, Soul, Seele), Akal-budi, dan Jasmani, menjadi sadar keadaan
masing-masing, lalu melangsungkan: 1. diskusi antara sesama warga setiap komunitas,
seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa; 2. menja-lin komunikasi
dengan alam sekitar melingkungi: padang rumput, rimba sampai hutan belantara; paya
atau rawa, sungai, laut, hingga samudra; juga padang pasir, gurun, padang salju
mulai mu-siman hingga salju abadi; 3. mendengarkan bisikan semilir angin, amukan
badai, hempasan ombak sampai gelombang, angkara murka gemuruh hingga dentuman
petir, sayatan cahaya kilat sambar menyambar, getaran gempa mengguncang bumi, letusan
gunung api, dan banyak lagi yang harus diketahui insan berakal-budi, mulai dari
hidup sendiri hingga tergabung dalam komunitas; 4. tidak juga lupa juga insan berdialog
dengan semua yang menampakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit dari
siang sampai malam, seperti: arakan awan berwarna warni, matahari dan bulan
yang tim-bul tenggelam, bintang gemerlapan di langit pada malam hari, dan masih
banyak lagi lainnya yang terlihat setiap hari hingga dengan mncul berkala.
Andaikata manusia
dapat bermukim di permukaan setiap planit yang terdapat dalam “sistim mata-hari”
selain bumi, tampaknya tiga-sekawan penggerak akal-budi insani diutarakan
diatas tidak akan berubah, meski sudah tentu perbedaan akan timbul pada alam
sekitar di permukaan setiap pla-nit yang
sedang dihuni. Walaupun demikian perlu dimengerti, bahwa sejumlah planit yang terdapat
dalam “sistim matahari” lebih besar ukurannya ketimbang bumi. Ini berarti
“massanya” jauh lebih besar dari bumi, sehingga medan gravitasi yang ada
dipermukaannya dapat menyebabkan orang tidak dapat berdiri disana. Bulan yang telah
berulangkali disinggahi oleh astronaut Apollo dari Amerika Serikat, lebih kecil
dari bumi. Gaaris tengahnya 3.474 km, hampir 1/4 dari garis tengah bumi tepatnya
27,3% garis tengah bumi. Bulan ternyata memiliki medan gravitasi 1/6 dari medan
gravitasi bumi tepatnya 16,54 %, sehingga orang dapat melompat enam kali lebih
tinggi dari yang dapat dilakukannya di muka bumi.
Tampaknya, apabila manusia dapat berdiam permukaan
planit mana saja yang ada dalam sebuah “sistim bintang” tergabung kedalam
Galaksi mana saja yang ada dalam Alam Semesta yang maha besar dan sangat luas
ini, tiga-sekawan penggerak akal-budi insani yang telah diutarakan
diatas ti-dak akan banyak berbeda. Perbedaan hanya akan terdapat pada alam
sekitar masing-masing planit yang didiami orang. Dengan demikian dapat
dikatakan, bahwa “tiga-sekawan” penggerak akal-bu-di insan yang telah diutarakan
diatas bersifat “alamsemesta” (universal), artinya akan selalu ditemui manusia dimana
saja ia berdiam di seantero Alam Semesta yang maha besar lagi sangat lu-as ini.
Mitologi
Setelah berlalu masa dalam hitungan ratus ribu tahun,
“akal-budi” insani berbagai komunitas ber-diam di muka bumi yang keberadaannya tercerai-berai,
dipagari lagi jarak tempuh berjalan-kaki la-ma dan melelahkan untuk bersua dengan salah
satu komunitas lain, diawali: 1. dialog antar warga setiap komunitas, lalu: 2. hasil dialog komunitas
dengan alam sekitar tempat berdiam, dan: 3. Hasil komunikasi komunitas dengan segala
yang menam-pakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit; maka perolehan 1,
2, 3, dipelajari dengan saksama, lalu didalami baik-baik oleh setiap komunitas berangkat
dari pengetahuan yang ada pada mereka masing-masing, lahirlah dalam setiap komunitas apa yang dikenal dengan:
ceritra lama, atau hikayat purba, masing-masing komunitas berdiam di muka bumi.
Perjalanan waktu panjang berada di muka bumi mengantarkan perolehan budaya ini
menjadi “ceritra rakyat”, kesepakatan diterima bersama, mulai: keluarga,
masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menjadi: hikayat, sejarah, kepercayaan, kesakralan,
keimanan, dan lainnya kesepakatan bersama, milik bersama pula. Ceritra rakyat demikian
dalam bahasa Yunani dinamakan: “mythos”, melahirkan: “myth”, dalam bahasa
Inggris dan: “mitos”. dalam bahasa Indonesia. Adapun bahan (materi), mulai hikayat,
ajaran, pengetahuan, kepercayaan hingga keyakinan terkandung dalam ceri-tra
rakyat, mulai disampaikan dari mulut ke mulut, begitu juga lewat ceramah, tidak
terkecuali yang tertulis dalam beragam aksara, dalam bahasa Yunani disebut:
“logos”. Lahir dengan demikian: “lo-gy” dalam bahasa Inggris, dan: “logi” dalam
bahasa Indonesia. Selanjutnya kata “mithology”, gabu-ngan dari “myth” dengan “logy”
dalam bahasa Inggris, dan “mitologi” gabungan “mitos” dan “logi” dalam bahasa
Indonesia. Mitologi lalu berkembang menjadi: ilmu atau pengetahuan (science) yang
mempelajari aneka ra-gam ceritra rakyat yang ada di muka bumi, datang dari bermacam
latar belakang budaya hingga kepercayaan dan agama yang ada di muka bumi sejak awal
kehadiran manusia silam. Mitologi menjadi khazanah atau lumbung peradaban
bermuatan: adat-istiadat, ke-percayaan, agama yang dihasilkan sesuatu komunitas,
mulai dari ceritra rakyar jenaka hingga dengan upacara sakral (suci) suatu
kepercayaan, dan agama. Bentuknya dapat bercorak: legenda, fabel, nasihat,
ramalan, petuah, dan banyak lagi lainnya hingga beragam kitab-suci yang berhasil
di-himpun manusia dengan berdiam di muka bumi. Mitologi juga mencakup tentang bermacam
nilai, seperti: kebaikan prilaku, penolakan pada yang buruk; tertib hidup dalam
kelompok diawali: kelu-arga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, demi menjaga tertib
sosial. Mitologi juga tentang ikh-wal manusia itu sendiri, seperti hidup dan
kematian, keabadian Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab),
Soul (Inggris), Seele (Jerman) setelah mati, tentang Tuhan dan keesa-anNya, dan
masih banyak lagi lainnya. Ada pula yang berupa: nasihat, perumpamaan, pantun, dan
petuah yang diciptakan beragam komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa,
dan bangsa yang tidak pernah sama disebabkan kehidupan insan yang terpencar
selama ini, dipagari pula jarak berjalan kaki lama yang melelahkan ribuan km jaraknya,
oleh belum adanya sarana dan prasarana transportasi tidak terkecuali peralatan telekomunikasi
di waktu yang silam.
Tak terbilang banyak mitos mengemuka lahir dari komunitas,
mulai keluarga hingga bangsa berdi-am di beragam tempat muka bumi, meski tidak muncul
seketika. Beragam hikayat dan ceritra rak-yat berkembang, dan dalam rentang
waktu panjang mengemuka dalam tiap komunitas, walau belum tentu sejarah, tetapi
tidak diragukan adalah sebuah perolehan budaya, mengisahkan jalan hidup ko-munitas
mulai perorangan hingga bangsa, tidak terkecuali oleh tokoh sentral yang mem-perlihatkan
kepahlawanan kepada komunitas sampai bangsa masing-masing. Selain tentang
orang, mitos juga berceritra tentang kepercayaan, peristiwa, nilai, dan sejumlah
hal sakral, dan lain yang penting da-lam komunitas hingga bangsa, antara lain bagaimana
mereka sampai tiba ke suatu tempat ke-beradaan dimuka bumi ini, kemana mereka kelak
akan menuju setelah hidup yang sementara ini berakhir, dan apa yang harus diperbuat
atau kerjakan selama hidup serentang hayat ini, dan banyak lagi lainnya. Di Indonesia
mitologi umumnya memuat kisah awal keberadaan dunia, juga ceritra tentang dewa
dan dewi serta makhluk supranatural, juga tidak terkecuali kisah tentang asal
mula dari sesuatunya.
Berbagai mitologi telah tampil di muka bumi dibidani
oleh tak begitu banyak komunitas yang telah
berdiam di muka bumi bertukar generasi sejak dari awal keberadaan insan di muka
bumi ini, dimulai: keluarga, masyarakat, suku-banga, dan bangsa, dari masa yang
silam. Dipagari oleh jarak tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan sepanjang
sekitar dua ratus ribu tahun, mereka saling terpencar satu sama lain, sampai dengan
timbulnya “revolusi industri” di Eropa silam, yang memperkenalkan bermacam
moda angkutan: angkutan darat, angkutan air, angkutan udara, angkutan
antariksa, dan “revolusi elektronika” memperkenalkan perangkat telekomunikasi bernama:
gadget (gawai), membuat dunia menjadi terbuka lebar. Kini mitologi bermuatan:
ceritra rakyat, ajaran leluhur, kepercayaan bangsa, agama bumi, dan agama
langit, dari tak terhitung banyak komunitas yang ada di seluruh penjuru dunia, telah
menjadi harta kekayaan “hati-sanubari insani”: budaya, bermacam nilai sakral,
dan keiman agama, menjadi pengetahuan milik orang banyak. Kekayaan hati-sanubari
ini menjadi “perbendaharaan bukan-material” (immaterial things) milik umat sedunia
peng-gerak “akal-budi” manusia, lawan dari “perbendaharaan material” (materal
things) pengisi “ruang alam sekitar” yang mengelilingi insani di muka bumi. Dibawah
ini adalah berbagai tempat asal perbendaharaan
bukan-material yang dikelompokkan kedalam kawasan tempat asal dari bermacam mitologi
yang kini terdapat di muka bumi, sebagai berikut:
I. Mitologi Dunia
A. Kawasan Asia
1. Asia Barat Daya
a. Zaman Purba
- agama Sumeria
- mitologi Mesopotamia (Sumeria,
Assiro-Babylonia)
- mitologi Iran
- mitologi Semitik:
- Babylonia
- Arab
- Canaan
- mitologi hittit
- mitologi Hurrian
- mitologi Scythian
- mitologi Elamite
b. Zaman Pertengahan hingga Modern
- mitologi Armenia
- mitologi Arabia
- mitologi Iran:
- Balochi
- Ossetia
- Kurdish
- Persia
- mitologi Islam.
2. Asia Selatan
- mitology Ayyavazhi
- mitologi Hindu
- mitologi Tamil
- mitologi Buddhist.
3. Asia Timur
- mitologi China
- mitologi Jepang
- mitologi Korea
- mitologi Tibet
- mitologi Ryukyuan
- mitologi Ainu.
4. Asia Tenggara
- mithologi Filipina
- mitologi Melayu
- mitologi Indonesia:
- Batak
- Miangkabau
- Nias
- Melayu
- Dayak
- Toraja
- Asmat
- Sunda
- Jawa
- Papua
- mitologi Vietnam.
5. Asia Tengah dan Utara
-
ajaran Shamanisme dari Siberia
-
mitologi rakyat Turki dan Mongolia
- mitology Scythian
- mitologi Mongolia
- mitologi Finnik
B. Kawasan Afrika
1. Afrika Tengah
- Bantu
- Bushomgo, Congo
- Baluba
- Bambuti (Pygmy), Congo
- Lugbara, Congo.
2. Afrika Timur
- mitologi Akamba (Kenya Timur)
- mitologi Dinka (Sudan)
- mitologi Lotuko (Sudan)
- Masai (Kenya, Tanzania)
- mitologi: Kintu, Kaikuzi, Warumbe,
dan lainnya (Uganda).
3. Tanduk Afrika
- mitologi Somalia.
4. Afrika Utara
- mitologi Berber
- mitologi Mesir (sebelum Islam).
5. Afrika Barat
- mitologi Akan
- mitologi Ashanti (Ghana)
- mitologi Dahomey (Fon)
- mitologi Edo (Nigeria, Kameron)
- mitologi Efik
- mitologi Igbo (Nigeria, Kameron)
- mitologi Isoko (Nigeria)
- mitologi Yoruba (Nigeria, Benin).
6. Afrika Selatan
- mitologi Khoikhoi
- mitologi Lozi (Zambia)
- mitologi Magalasi
- mitologi Tumbuka (Malawi)
- mitologi Zulu (Afrika
Selatan).
C. Kawasan Australia dan Oseania
- mitologi Aborigin Australia
- mitologi penciptaan Kaluli
- mitologi Melanesia
- mitologi Mikronesia
- mitologi Papua
- mitologi Polinesia:
- Hawaii
- Mangarevan
- Māori
- Rapa Nui
- Samoa
- Tahiti
- Tongga
- Tuvaluan
D. Kawasan Kutub Utara
Ajaran Shamanisme dari Siberia tumpang
tindih dengan Asia Utara, Eropa Utara, dan
Amerika Utara:
- mitologi Finlandia
- mitologi Inuit
- mitologi Norse
- mitologi Sami.
E. Kawasan Eropa
Zaman Purba:
- mitologi Yunani
- mitologi
Romawi
- mitologi
Etruskan
- mitologi
Paleo-Balkan
- mitologi
Lusitania
1. Eropa Utara
- mitologi Germania:
- Paganisme (percaya kepada
banyak Tuhan)
- Norse
- Anglo-saxon
- mitologi Finnik
- Estonia
- Finlandia
- Sami
- mitologi Slavia:
- Polandia
- mitologo Baltik:
- Latvia
- Lituania
- Prusia
2. Eropa Timur
- mitologi Hongaria
- mitologi Roma (Gypsy)
- mitologi Slavia
- mitologi Romania
- mitologi Tatar
3. Eropa Selatan
- mitologi Albania
- mitologi Catalonia
- mitologi Yunani
- mitologi Italia
- mitologi Lusitania
- mitologi Maltes
- mitologi Spanyol
- mitologi Turki
4. Eropa Barat
- mitologi Alpen
- mitologi Basque
- mitologi Frankish
- mitologi Perancis
5. Kaukasia Utara
- mitologi Nart Saga (meliputi:
Abazin, Abkhaz, Circasian, Occetia, Kharachay-Balkar,
Chechen-Ingusetia).
- mitologi Osetia
- mitologi Vainakh (meliputi Chechen
dan Ingusetia).
- mitologi Adyghe Habze.
6. Kaukasia Selatan/Transkaukasia
- mitologi Armenia
- mitologi Georgia
7. Kepulauan Inggris
- mitologi Celtik
- mitologi Irlandia
- mitologi Skotlandia
- mitologi Welsh
F. Kawasan Amerika
1. Mesoamerika
- mitologi Aztek
- mitologi Maya
- mitologi Olmek
2. Karibia
- mitologi Haiti
3. Amerika Selatan
- mitologi Chilota
- mitologi Brazilia
- mitologi Inka
- mitologi Guarani
- mitologi Mapuche
4. Diaspora Afrika
Kepercayaan dan agama orang-orang
diaspora Afrika:
- Hoodoo
- Vodou
- Santeria
- Obeah
- Kumina
- Palo
- Kandomble
- Umbanda
- Quimbanda
II. Ajaran
Para Leluhur
Sebahagian
dari mitologi warisan leluhur berbagai bangsa dari masa silam, dalam perjalanan
waktu lalu berkembang menjadi kepercayaan yang berasal dari para leluhur.
1. Mitologi Romawi
2. Mitologi Mesir
3. Mtologi Yunani
4. Mitologi Jepang
5. Mitologi Mayan
6. Mitologi Mesopotamia
7. Mitologi Zoroaster
8. Mitologi Batak ←
9. …..
10. …..
Dan masih banyak lagi lainnya.
III. Agama Bumi
Dalam
hal agama bumi, “mitologi” datang dari ajaran orang-orang suci yang terkenal dan
pernah berdiam di muka bumi diwaktu yang silam. Dinamakan agama bumi, karena fikiran
cerdas dan bijak ini datang dari seorang atau lebih cendekia yang pernah ada
dan hidup di muka bumi yang menjadi teladan dan berkarya sepanjang hayat hidup di
muka bumi. Ajaran mereka diamalkan para pengikutnya dengan rajin dan setia, lalu
berkembang menjadi kepercayaan nyata dalam kehidupan masyarakat ribuan tahun
lamanya, lalu menjelma menjadi agama bumi.
1. Agama Hindu
2. Agama Buddha
3. Agama Khonghucu
4. Agama Shinto
5. Masih ada
lainnya.
IV. Agama Samawi
Dalam
hal ini, “mitologi” diajarkan diyakini oleh para penganutnya sebagai firman Tuhan
yang datang dari langit untuk sesuatu umat yang berdiam di muka bumi. Mitologi yang
terhimpun kedakan Kitab Suci bermuatan bermacam Surah terinci dalam beragam
ayat didatangkan Tuhan diantarkan oleh seorang Rasul atau Nabi yang diutus dari
langit. Dinamakan “agama samawi” karena perkataan Tuhan yang terhimpun dalam Kitab
Suci berasal dari langit, itu alasannya menga-pa disebut “agama langit”. Dengan
demikian Kitab Suci itu ialah perkataan Tuhan yang dikirim dari langit dan disampaikan
oleh seorang utusan (messenger) kepada manusia yang hidup di muka bumi.
Dari sekian banyak utusan Tuhan yang telah datang sampai
kini diketahui orang, ialah tiga mitologi agama paling akhir disampaikan bawah
ini:
1. Nabi Musa AS di utus ke muka bumi 1400
tahun sebelum tarikh Masehi, diutus Tuhan
menyampaika Kitab Taurat kepada umat
Yahudi.
2. Nabi Isa AS diutus pada awal tarikh
Masehi, diutus Tuhan menyampaikan Kitab Injil kepada
umat Nasrani.
3. Nabi Muhammad SAW tahun 610 Masehi, diutus
Tuhan menyampaikan Kitab Al-Quran kepa-
da
umat Islam.
Banua Tiga Sekawan
Salah satu komunitas manusia berdiam di muka bumi
silam, diwakili cendekiawan bermukim di Su-matera Utara, tepatnya di bumi Tapanuli,
ialah suku-bangsa Batak. Sebagaimana komunitas manu-sia lain, orang Batak juga menemukan
BTS penggugah “akal” dan pengetuk “budi” manusia yang telah diutarakan sebelumnya,
namun “Ompu Simulajadi orang Batak pertama diketahui berdiam di Tanah Batak
silam, tampil dengan pandangan bahwa “Alam Semesta” yang maha besar lagi sangat
luas ini, tidak lain dari apa yang dinamakan “Banua na Tolu Sadongan” (Banua yang
Tiga Seka-wan), disingkat BTS, masing-masing terdiri dari: “Banua Ginjang” (Alam
Atas), “Banua-Tonga” (Alam Tengah), dan “Banua Toru” (Alam Bawah); ketiganya
lalu, menurut pemahaman “manusia pertama suku-bangsa Batak ini”, tersusun rapi dari
atas kebawah bagaikan kue lapis yang sangat besar tergolek diatas sebuah talam yang
amat luas. Banua artinya “Ruang Alam”, tiga buah bilangannya semua, dan menjadikan
Alam Semesta ini.
Kata “simulajadi” memang
bahasa Batak, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Batak. Di se-menanjung Tanah
Melayu silam, kata itu telah dikenal orang dengan: “semulajadi”. Meski telah
menjadi bahasa Melayu, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Melayu.
Menurut penulis sejarah di Semenanjung Malaya, kata itu sudah dikenal orang lama
di anak benua India, lalu dibawa pen-deta
Hindu ke Tanah Melayu; dan dari tempat akhir ini dibawa rohaniawan Hindu lagi ke
Tanah Batak, ketika mereka membangun kompleks peribadatan bentuk “Candi’ di
desa Bahal, Portibi; kini termasuk dalam Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten
Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Para ro-haniawan Hindu dahulu rupanya masuk ke Tanah
Batak lewat selat Malaka lalu dari Labuhan Bilik di muara sungai Barumun melayari
sungai itu hingga di Portibi. Banyak perkataan dalam bahasa Batak berasal dari
bahasa Sansekerta yang dibawa ke Tanah Batak oleh kaum rohaniawan, dan yang
juga banyak digunakan ialah: “Debata” datang dari kata “Dewata” yang artinya
Dewa. Orang-orang Hindu telah mendirikan sejumlah Kerajaan di sejumlah negara Asia
Tenggara pada masa menjelang masuknya tarikh
Masehi.
Adapun yang dinamakan Banua Ginjang ialah tempat berada
diatas yang benderang, berlatar biru la-ngit bermandikan cahaya, dimana Debata
yang mengatur segalanya bersemayam. Juga tempat asal dari segala yang bernyawa.
Sedangkan Banua Tonga, ialah tempat yang terdapat di muka bumi, dimana mengalir
dalam jasad semua yang bernyawa untuk serentang hayat. Adapun Banua Toru, ialah
tempat gelap gulita di dalam perut bumi, kemana segala yang bernyawa akan menuju
setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul
(Inggris), Seele (Jerman) berpisah dari badan.
Demikian dijelaskan Ompu Simulajadi tentang Alam
Semesta maha besar ini pada awalnya. Agar mudah diingat, lalu dinyatakan kedalam “Warna Sekawan
Batak”, disingkat WSB, masing-masing: “Putih”, untuk Banua Ginjang yang benderang,
“merah” untuk Banua Tonga dimana mengalir darah dalam tubuh yang bernyawa, dan
“hitam”, untuk Banua Toru yang gelap gulita, tempat tujuan segala tubuh setelah
Tondi bercerai dari badan. Kawanan warna kemudian digunakan untuk menghiasi
bermacam hasil kerajinan suku-bangsa Batak, antara lain: kain tenunan Batak yang
bernama “ulos” (selimut), pakaian dan perlengkapan Adat Batak, aneka ragam hiasan
(ornamen), dan lain se-bagainya supaya tidak terlupakan. Berbagai macam denda kerajinan
diperlukan untuk melangsung-kan acara dan upacara dalam adat Batak, mulai yang bersifat
keagamaan dan sakral sifatnya, hingga dengan yang biasa untuk perkawinan dan beragam
perayaan. Bangunan rumah kediaman suku-bangsa Batak selain memperlihatkan keunikan
bentuk, juga dilengkapi WSB, yang menjadi bagian penting dari seni ukir dari arsitektur
Batak.
Bendera Batak menggambarkan warisan pandangan Alam
Semesta dari Ompu Simulajadi pernah berdiam Tanah Batak silam, dan tidak lain
dari arna Sekawan Batak (WSB) yang telah diterangkan sebelumnya masing-masing berurutan
dari atas kebawah: putih, merah, dan hitam.
Bendera Batak
Masyarakat Batak
Setelah menempuh perjalanan waktu panjang, suku-bangsa
Batak lalu dengan istilah yang dikenal dengan sebutan: “marga”. Marga tidak
lain dari nama awal dalam suatu kekerabatan suku-bsngsa Batak yang menganut sistim
“patrilenial” (kebapaan) datang dari seorang leluhur pemersatu yang pernah berdiam
di Bonabulu (Tanah Batak) silam. Nama marga itu, tidak lain dari nama “orang
per-tama” dari marga disebutkan. Muncul dengan demikian beragam nama marga, seperti: Harahap, Siregar,
Lubis, Batubara, Nasution, Panjaitan, Simatupang, dan lain sebagainya. Nama marga
lalu digunakan terus oleh keturunannya “mendampingi” nama diri, guna mengetahui
darimana asal sese-orang yang berdiam di Bonabulu silam. Maka orang yang bernama:
Abdul Hamid Harahap, ialah seorang bernama: Abdul Hamid, keturunan generasi
sekian dari pendahulu atau leluhur pemersatu bernama Harahap berdiam di Tanah
Batak silam. Sebagai pembanding dapat dikete-ngahkan cara orang Arab yang bernama:
Abu. Untuk menghubungkan orang bernama Abu dengan leluhurnya silam, budaya
Timur Tengah menyuratkan sebagai berikut: Abu bin Saad, bin Taslim, bin Daud,
bin Siddiq, bin Maqruf, bin Talal, dan seterusnya. Untuk menjelaskan siapa sebenarnya
orang yang ber-nama: Abdul Hamid keturunan marga Harahap itu, suku-bangsa Batak
lalu menyiapkan yang dina-makan “tarombo” (silsilah) awalnya tersurat diatas
kulit kayu dalam aksara Batak sebagai catatan. Akan tetapi orang Arab tidak memerlukan
tarombo, karena semua nama hingga dengan leluhur di-maksud telah tercantum dalam
garis keturunan keluarga yang sudah jelas terbaca.
Dalihan Na Tolu
Masyarakat Batak bergaris keturunan patrilenial,
artinya laki-laki merupakan suhut bolon (kepala keluarga), dan menurut adat
Batak berhak menurunkan nama marga kepada anak-anaknya. Seba-liknya masyarakat
Minang bersilsilah “matrilenial” (keibuan), karena sejalan adat Minang wa-nitalah
yang menu-runkan nama marga kepada anak-anaknya, meski dilakukan oleh saudara
laki-lakinya. Dalam masyarakat Batak “pertama”
dikenal istilah: “kahanggi”, yakni himpunan keluarga Batak bermarga sama yang
terdiri dari bermacam generasi. Seorang dikatakan bermarga Harahap di Bonabulu
atau perantauan, karena yang bersangkutan masih keturunan marga Harahap yang dahulu
pernah berdiam di Tanah Batak. Selain dari itu “kedua”, ada lagi yang dinamakan: “anakboru”, yakni himpunan dari suku-bangsa
Batak bermacam marga, antara lain: Pane, Lubis, Rambe, Sor-min, dan lainnya yang
mempersunting “gadis” marga Harahap menjadi ibu di berbagai kampung mereka guna
menambah bilangan. Kemudian yang “ketiga”
ada pula yang dinamakan: “mora”, yak-ni himpunan dari suku-bangsa Batak bermacam
marga, seperti: Siregar, Pohan, Nasution, Rambe, dan lainnya yang mendatangkan
ibu kepada marga Harahap di berbagai kampung mereka untuk menambah bilangan. Dengan
demikian terbentuklah “sekawan marga” dinamakan: “anakboru”, ter-diri dari: Pane,
Lubis, Rambe, Sormin, dan lainnya menjadi “anak-boru” dari Marga Harahap di Bo-nabulu
silam, lalu meluas ke perantauan. Adapun “sekawan marga” lain terdiri dari: Siregar, Po-han, Nasution, Parinduri,
dan lainnya dinamakan: “mora” dari Marga Harahap di Bonabulu silam, juga lalu meluas
ke perantauan.
Ketiganya, masing-masing: “kahanggi” marga Harahap dengan
“sekawan marga anakboru” dan “sekawan
marga mora”, membentuk apa yang kemudian dinamakan: “Sekawan Masyarakat Batak”,
disingkat SMB, dikenal dengan nama: “keluarga besar”, dan dalam adat Batak disebut:
“Dalihan Na Tolu”, disingkat DNT, artinya: “Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT, terdapat
dalam masyarakat dari suku-bangsa Batak di Bonabulu silam, yang dibidani perkawinan
antar marga yang bersifat sa-kral. Gabungan dari ketiganya mengingatkan suku-bangsa
Batak kembali kepada mitos BTS pan-dangan Ompu Simulajadin akan Alam Semesta
dari silam, dan menegaskan pula bahwa: kehidu-pan masyarakat juga membutuhkan
adanya ketiga unsur sebagaimana telah diterangkan diatas.
Selain dari itu dahulu, ketika orang baru mengenal
api, nyala api didapur menjadi tempat orang ber-kumpul membicarakan dalam suatu
komunitas. Agar dapat bertanak diatas api, diperlukan tiga batu sebagai tungku tempat
meletakkan periuk. Dua batu kurang, empat batu terlalu banyak, hanya tiga batu yang
tepat bilangannya. Dari sini lahir sudut pandangan lain yang dikenal dengan istilah:
“Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT. Dan ini mengisyaratkan akan perlu adanya “keluarga
besar” dalam masyarakat suku-bangsa Batak terdiri dari: “kahanggi”,
“anak-boru”, dan “mora”, agar kehi-dupan di Banua-Tonga atau Alam Fana, dapat
berlangsung baik dan hamonis.
Perkawinan
Dalam masyarakat Batak di bonabulu, adat telah
menetapkan berlaku perkawinan keluar marga, atau eksogami. Naposo bulung
(anak laki-laki) kahanggi boleh dipaebat (dinikahkan) dengan nauli bujing (anak
gadis) moranyabegitu juga naposo bulung anakboru boleh dipaebat dengan nauli bu-jing
kahanggi; akan tetapi tidak untuk sebaliknya. Inilah yang disebut adat
perkawinan tidak-sime-tris (asimetric marriage). Hal ini dilaksanakan guna menghindarkan
nauli bujing anakboru dipaebat oleh naposo bulung kahanggi, demikian pula nauli
bujing kahanggi dipaebat oleh naposo bulung mora, karena akan menimbulkan rompak
tutur (rusaknya pertuturan) dan menyalahi adat di Bona-bulu. Dalam A-dat
Batak di kampung silam telah berlaku serangkaian kaidah yang berlaku dalam
keluarga besar SMB, yakni: somba marmora (hormat kepada mora), manat markahamaranggi
(pandai bergaul bersaudara), dan elek maranak-boru (membujuk anakboru) yang telah
ditetapkan dalam pertuturan menurut Adat Batak.
Tutur tidak lain dari kaidah bertegursapa
yang digariskan dalam Adat Batak digunakan dalam kelu-arga besar DNT, yakni ragam
tutur (sapa) digunakan antara mereka berlainan generasi; oleh mereka yang lebih
tua kepada yang lebih muda, atau sebaliknya dalam garis vertikal, begitu
juga ragam tutur diantara mereka yang masih satu generasi berbeda kedudukan
dalam aturan Adat Batak, seperti: kahanggi, anakboru, dan mora dalam garis horizontal;
tidak terkecuali arah bertegursapa. Tutur menjadi hapantunan (sopan santun)
dalam pergaulan hidup sehar-hari masyarakat Batak, terlebih dalam kehidupan sehari-hari
kekerabatan DNT yang dihormati, amat diperhatikan pelaksa-naannya dalam kehihidupan.
Kesalahan menyebutkan tutur terhadap seseorang dalam masyarakat di Bonabulu
yang masih kuat, berakibat mendapat koreksi langsung di tempat lengkap dengan
pen-jelasan menerangkan mengapa harus menyebut demikian.
Selain alasan rompak tutur disebutkan
diatas, adat perkawinan tidak simetris Adat Batak juga dipengaruhi peran yang
diemban oleh unsur-unsur: kahanggi, mora, dan anakboru dalam keluarga besar Dalihan
Na Tolu menyelenggarakan sebuah perhelatan adat. Dalam sebuah perhelata Adat Batak
diselenggarakan kahanggi, baik siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton
(kedukaan), kahang-gi akan dibantu tenaga oleh anakborunya, sementara moranya menyumbangkan
pemikiran diperlu-kan supaya acara berjalan lancar sebagaimana mestinya.
“Naposo bulung” (pemuda) dari suatu marga di
kampung halaman dinamakan: Sisuan Bulu (Sipe-nanam Bambu), adalah yang membela
kampung halaman andalan kahanggi bermukim di Bonabulu bersama kerabat semarga yang
lain. Karena itu ia didampingi oleh “nauli bujing” (gadis) datang da-ri mora yang
jadi “rongkap ni tondi” (pasangan hidup) untuknya. Dalam Adat Batak perkawinan
antara “naposo bulung”, atau yang bernama “bayo pangoli” (pengantin pria) dengan
“nauli bujing”, atau yang bernama “boru na dioli” (pengantin wanita) harus berasal
dari marga yang berbeda. Ada-pun “boru dioli” yang ideal dalam Adat batak anak-gadis
saudara kandung ibu laki-laki, yang biasa dinamakan “boru tulang”. Setelah perkawinan
berlangsung, “boru na dioli” ini akan menjadi Si-suan Pandan (Sipenanam Pandan)
di kampung halaman kebanggaan kahanggi. Perlu diketahui, Adat Batak melarang
“naposo bulung” sesuatu marga menikah dengan nauli bujing marga yang sa-ma,
atau dikenal dengan istilah perkawinan semarga (endogami). Ini
disebabkan pemahaman su-ku-bangsa Batak, bahwa orang-orang yang bermarga sama masih
bersaudara, dan tergolong masih seayah dan seibu, dan karena itu akan menyebabkan
insest (incest) terlarang dalam adat Batak.
Dibandingkan tataring, perkawinan dua sejoli
demikian, bagai tungku dengan dua dalihan, periuk diletakkan diatasnya akan
terjungkal. Dalam hidup bermasyarakat, pasangan ini juga tidak mem-punyai mora,
karena itu akan mendapat kesulitan bergabung kedalam keluarga besar DNT mengikuti
perhelatan adat Batak siriaon dan siluluton. Juga dalam lingkungan SMB, kedua sejoli
tidak memperoleh “habisuhon na sian mora” (tuntunan dari lingkungan mora), dan
tidak pula dapat melangsungkan “somba mar mora (“hormat kepada mora”). Karena telah
melangsungkan perka-winan semarga menyalahi Adat Batak, jalan keluarnya ialah salah
seorang dari dua sejoli harus mengganti marga melalui upacara adat Batak, agar
nama keduanya dapat kembali bergabung ke-dalam DNT dan nama mereka dimuat kedalam
tarombo marga pengantin laki-laki.
Kebersamaan
Dari SMB, Trilogi Batak merambah ke ranah
nilai (value) hidup bersama yang berguna dalam ke-hidupan keluarga besar di
Bonabulu. Mora dikatakan “na mangalehen hangoluan” (si pemberi kehi-dupan) kepada
kahanggi. “Mora soksok” dialamatkan kepada marga yang pertama kali mendatang-kan
Ina (Ibu) kepada kahanggi. Adapun marga yang telah mendatangkan Ina lebih dari
tiga generasi berturut-turut kepada kahanggi, seperti marga Siregar dari Bunga
Bondar kepada marga Harahap dari Hanopan (Sipirok), dinamakan “mataniari naso
gakgahon” (matahari yang tidak dapat ditatap). “Mora i ma mual ni hangoluan” (mora
adalah mata air kehidupan) kata para cendekiawan, “mora na mangalehen habisuhon”
(mora ialah si pemberi kecerdikan). Itulah sebabnya mengapa turun perin-tah
Adat Batak kepada kahanggi yang mengatakan agar yang akhir ini melakukan “somba
mar Mora” (hormat kepada mora).
Lingkungan kahanggi dinamakan: “dongan
sabutuha” (himpunan sekandung), merupakan kumpu-lan hidup orang-orang yang semarga
terdiri dari bermacam generasi. Orang-orang bersaudara mem-punyai hak dan
kewajiban yang benar-benar sama, tidak
seorangpun boleh mendapat lebih banyak atau kurang dari lainnya. Kahanggi ialah
“alam kehidupan” di kampung halaman atau Bonabulu silam, dimana mereka yang
senasib dan sepenanggungan dahulu mempertahankan marga dengan kampung dari
musuh yang datang meyerang. Karena itu turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan
a-gar: ”manat-manat markahamaranggi” (pandai-pandailah hidup orang
bersaudara).
Anakboru dinamakan: “nagogo manjujung, na
ringgas mangurupi morana (yang kuat menjujung di kepala, dan rajin membantu
moranya). Anakboru dikatakan juga: “sitamba na hurang, sihorus na lobi” (si
penambah yang kurang dan si penguras kelebihan) dalam beragam perhelatan Adat
Batak, baik siriaon maupun siluluton dalam lingkungan kahanggi. Itulah sebabya
mengapa turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan: “elek mar anakboru”
(pandailah mengambil hati anakboru) agar bantuan mereka selalu dapat diperoleh.
Dengan demikian nilai-nilai: somba mar mora, manat mar
kahanggi, dan elek mar anakboru menjadi Trilogi
Nilai Batak, disingkat TNB yang amat ber-guna untuk kebersamaan hidup lingkungan
DNT (TYT) suku-bangsa Batak, agar kekerabatan yang harmonis senantiasa dapat terpelihara
dari Bonbulu hingga dengan perantauan, selama berada di Banua-Tonga.
Karena hidup di Banua-Tonga atau Alam Kedua
bersifat sementara, yakni serentang hayat, maka guna memelihara kerukunan
komunitas suku-bangsa Batak berdiam di Bonabulu, Adat Batak menurunkan
perintah: “inte disiriaon, tangi disiluluton“ (menantikan khabar
bahagia, selalu menyi-mak berita duka). Selain pesan untuk masyarakat DNT
dikemukakan diatas, ada pula perintah Adat Batak untuk perorangan (individu)
yang memerlukan perhatian serious masyarakat di Bonabulu ke-tika itu, baik terhadap
mereka yang sudah tua apalagi yang masih muda, ialah apa yang dinamakan: Tolu Sadongan Nijalahan (Tiga Sekawan Dicari),
disingkat TSN(TSD) dalam hidul berdiam di Banua Tonga selama hayat seseorang yakni:
hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.
Mora artinya teladan, dan hamoraon ialah keteladanan mencakup:
keakraban, taat hukum, ber-pan-dangan hidup maju, penuntut dan pencari ilmu
pengetahuan, penyayang sekaligus pelindung, pan-dai menengahi perbedaan demi
kerukunan hidup, beriman, dan masih banyak lagi yang lain ber-sa-rang dalam Tondi
(jiwa/ruh/hati-nurani/soul/seele) bersifat bukan-benda (material) untuk memoti-vasi
Roha (akal-budi) manusia untuk berbuat berguna. Inilah yang dinamakan: kekayaan
atau harta batin (wealth of the soul) yang dimiliki seorang bergelar: halak
na mora (manusia yang teladan). Gabe ialah kaya, sehingga hagabeon artinya kekayaan dikuasai
orang meliputi: rumah, harta-benda, sawah ladang, simpanan bank, dan lain sebagainya
bersifat kebendaan (material) di dunia dikuasai seorang, termasuk juga keturunan.
Inilah yang dinamakan orang harta lahir (the material wealth) yang dimiliki
seseorang bergelar: halak na gabe (orang yang kaya). Adapun hasangapon
berasal dari kata sangap yang
artinya martabat (dignity). Hasangapon ialah martabat yang berhasil
diraih seorang menjalani hidup di Banua-Tonga,
atau Alam Fana di dunia ini. Pada zaman kerajaan silam orang bermartabat ialah:
Raja, kaum bangsawan, datu, dan lain sebagainya. Kini orang bermartabat, ialah:
Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Bupati, rohaniawan beragam agama, ilmuwan, peneliti
penemu, pendiri aneka industri, penggiat olahraga, dan masih banyak lainnya yang
tidak dapat dirinci satu persatu. Mereka yang berbuat: amal yang baik, menolong
fakir miskin, pendiri rumah yatim-piatu, penjelajah alam, pengarung samudra, dan
lain sebagainya yang tak terhitung banyak jumlah dan ragamnya. Dengan melola hamoraon
(harta batin), hagabeon (harta lahir), seseorang dapat meraih hasangapon atau martabat
hidup di Banua Tonga, dahulu menjadi: Raja, kaum bang-sawan, Datu, Ompu, dan
lian sebagainya; kini Presiden, menteri, rohaniawan, ilmuwan, olahraga-wan,
kepahlawanan, astronaut, dan lain sebagainya.
Tolu Sadongan Nijalahan
Hamoraon, hagabeon, dan hasangapon lalu
menjadi jembatan bagi manusia untuk meraih martabat tinggi selama berdiam di
Banua-Tonga. Inilah yang dinamakan Tolu Sadongan Nijalahan, disingkat TSN (Tiga
Sekawan Dicari, disingkat TSD). Dengan hamoraon, orang dapat mencapai martabat tinggi dengan mengamalkan “harta batin”
bersemayan dalam hati-nurani insani. Dengan hagabeon, orang juga dapat mencapai
martabat tinggi dengan memberdayakan “harta lahir” yang dikuasainya terdapat di
Banua-Tonga atau dunia ini, demi kemaslahatan orang banyak. Dengan hasangapon pun
orang dapat mencapai martabat tinggi lewat keturunan, seperti: putra atau putri
Raja, keturunan para bangsawan, anak-anak orang dengan nama besar, keturunan gelar
tersohor, dan lainnya. Hanya saja untuk yang disebut terakhir, yang
bersangkutan perlu membuktikan dirinya layak untuk me-nyandang martabat yang diwarisi.
Karena, bila tidak martabat disandang akan cepat tergerus oleh waktu. Ini disebabkan kenyataan, bahwa martabat
itu diraih lewat perjuangan berat yang menuntut bukti meyakinkan. Diibaratkan kredit
(utang), martabat (dignity) keturunan harus dilunasi prestasi, agar memperoleh pengakuan.
Dan, manakala pewaris berhasil, maka orang akan mengatakan: “ia bako amangna”,
artinya: dia seperti bapaknya; atau: ia memang keturunan keluarga si Haji Polan
yang tersohor itu.
Apabila
dengan harta batin seseorang dapat membangun kehidupan harmonis
mendatangkan damai dan kesejahteraan kepada suatu komunitas berdiam di
Banua-Tonga, maka yang memprakarsainya akan memperoleh martabat tinggi dalam
komunitasnya. Demikian juga, apabila harta lahir yang dikuasai seseorang
diberdayakan untuk kemaslahatan orang banyak dengan mudah berbagi kepada sesama,
untuk mengatasi penderitaan umat pasca bencana alam yang timbul di suatu
kawasan, ma-ka si dermawan akan memperoleh martabat tinggi lewat kemurahan hati
dalam komunitasnya. Akan tetapi untuk kaum bangsawan dan yang setara, yang mewarisi
martabat dari keturunan, perlu mem-buktikan kemampuannya agar diterima
masyarakat. Itulah sebabnya mengapa seorang pangeran, atau putri kerajaan dimasa
silam, harus memperlhatkan kecakapan menegakkan keadilan guna me-nunjukkan kepada
masyarakat kelayakan martabat yang tengah disandang.
Selain martabat “bersifat positif” diutarakan
diatas, di Banua Tonga atau dunia ini, terdapat juga martabat yang “bersifat negatif”
dan mengantarkan seseorang terjerembab kelembah hina dina hi-dup di
Banua-Tonga, apabila: hamoraon dimiliki, hagabeon dikuasai, dan hasangapon
disandang ti-dah dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak dari komunitas
tempat berdiam.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, badan
atau tubuh yang dimiliki seseorang dalam bahasa Batak dinamakan: pamatang. Dan
akhir ini, lebih dari 70% berat badan hanyalah air, terdapat pada segala yang
bernyawa, pinjaman dari Banua-Tonga. Demikian pula: hamoraon dan hagabeon yang menyusul
kemudian. Segala yang bernyawa asal dari Banua Ginjang, setelah menjalani hidup
di Banua-Tonga, meneruskan perjalanan ke Banua-Toru, setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) meninggalkan badan. Tubuh manusia (ma-teri) yang berasal
dari Banua-Tonga, lalu kembali ke asalnya tidak terkecuali: hamoraon dimiliki dan
hagabeon dikuasai. Adapun hasangapon akan terus mendampingi Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) seseorang.
Hanya hasangapon yang setia menemani Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris),
Seele (Jerman) meneruskan
perjalanan menghadap Debata (Sang Pencipta) berdiam Banua Ginjang, dan hasangapon
seseorang juga yang akan tinggal di Banua-Tonga, atau Alam Fana, atau dunia ini
untuk menyapa semua orang.
Dengan demikian Tolu Sadongan Nijalahan
(TSN) atau Tiga Sekawan Dicari (TSD), menjelma menjadi pengamalan hidup suku-bangsa
Batak bermukim di Banua-Tonga dalam pandangan Ompu Simulajadi berangkat dari falsafah
TBS yang sangat perlu diperhatian. Dengan TSN/TSD diharap-kan hati-nurani insani
mendapat pencerahan dari Debata, mulai perorangan (individu), keluarga,
suku-bangsa, dan bangsa Batak, agar selalu bergiat mencari celah dalam
belantara hidup di Banua-Tonga, menyongsong datangnya terang sinar matahari yang
menembus kelam hati-nurani, menun-jukkan lembar pilihan hidup yang benar-benar sejalan
dengan bakat dan kemampuan dimiliki ber-mukim di Banua-Tonga.
Tarombo
Suku-bangsa Batak terdapat di Sumatera
Utara, tepatnya di Tanah Batak yang luas, juga dikenal de-ngan “Tapian Na Uli”,
disingkat Tapanuli. Dari sekian banyak suku-bangsa Batak berdiam di wila-yah
tersebut, terdapat sejumlah puak masing-masing memiliki keragaman: budaya,
kebiasaan, adat-istiadat, dan dialek suku-bangsa Batak berbeda. Selain memiliki
bahasa lisan yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat, suku-bangsa
Batak juga mempunyai “bahasa tulis” dengan aksara Batak yang dinamakan: “surat
Batak” (tulisan Batak). Dengan aksara Batak, bera-gam catatan (dokumen) telah
diwariskan leluhur Batak kepada keturunan yang datang kemudian. Salah satu catatan penting yang biasa
diwariskan untuk generasi penerus dalam masyarakat Batak ialah apa yang disebut
di Bonabulu silam:“tarombo” (silsilah keluarga). Melalui sebuah tarombo
suku-bangsa Batak dapat mengetahui Huta (Kampung) asal mereka di Tapanuli
silam, termasuk kerabat semarga bernama:
“kahanggi” hingga “keluarga besar” disebut: Dalihan Na Tolu (DNT). “Kahanggi”
dan “keluarga besar” adalah dua bentuk “tubuh masyarakat” (social bodies) yang
me-ngikat erat: “perorangan” (individu)
kedalam “kelompok hidup”, dalam masyarakat suku-bangsa Batak lahir di
Bonabulu silam lalu menyebar ke perantauan.
Tarombo berawal dari ingatan bersemayam dalam
kenangan orang Batak yang kemudian beralih ke ranah tulis. Susunan dimulai
dari: 1. Kahanggi, yakni mereka yang
bermarga sama, diawali leluhur pemersatu hingga kepada generasi yang ada
sekarang. Selanjutnya: 2. Anakboru, ialah
himpunan berbagai marga yang mempersunting anak-gadis kahanggi dibawa ke
kampung mereka untuk menambah bilangan. Akhirnya: 3. Mora, ialah kumpulan bermacam marga yang mendatangkan ibu pada
kahanggi di kampung yang akhir ini untuk menambah bilangan. Gabungan: 1.
Kahanggi, 2. Anakboru, dan 3. Mora, lalu membentuk apa yang dalam masyarakat dinamakan
“keluarga besar”, bernama: Dalihan Na Tolu (DNT). Ketiganya mengingatkan kepada
pandangan Ompu Simulajadi yang mengatakan: kalau Alam Semesta itu “Tiga
sekawan” adanya, maka hidup bermasyarakat di Banua-Tonga juga perlu benirukan “ber-Dalihan
Na Tolu” untuk memperoleh kebaikan. Perlu dicatat, dalam SMB “laki-laki” menjadi
pemimpin dalam lingkungan kahanggi, tetapi “perempuan” menjadi jembatan dengan marga
lain lewat perkawinan, yang akan dipantau saudara laki-laki marga perempuan.
Dengan demikian manakala timbul perselisihan diantara laki-laki dan perempuan
da-lam sebuah rumah tangga, maka saudara laki-laki dari fihak perempuan selaku
“mora” dapat mene-ngahi “perbedaan pendapat” sejalan Adat Batak untuk
menyelesaikan perkara.
Kahanggi, Anakboru, dan Mora, lalu memainkan
peran penting dalam setiap perhelatan Adat Batak, baik siriaon (kegembiraan)
maupun siluluton (kesedihan) mulai dari Bonabulu hingga perantauan. Dalam
tarombo akan segera tampak mereka yang segenerasi, mereka yang berlainan
generasi, baik pada tingkat orang tua, maupun kakek, dan lainnya. Lalu tegur
sapa (tutur) apa yang harus diguna-kan menyapa yang masih segenerasi, mereka yang
lain generasi, dan bagaimana menghindarkan timbulnya rompak (kesalahan) tutur,
dan lain sebagainya.
Mudah difahami, dalam masyarakat Batak yang
sederhana silam, teknologi belum lagi berkembang, belum lagi ada peluang untuk memeriksa
kebenaran pandangan Ompu Simulajadi yang bersemayam dalam fikiran orang-orang
Batak berdiam di Bonabulu, terhadap Alam Semesta sebenarnya terdapat di luar
sana. Sebelum datangnya abad pertengahan di Eropa, orang-orang diseantero jagad
masih menganut pandangan Ptolomaëus yang mengatakan bahwa bumi ini adalah pusat
dari segala peredaran benda langit yang ada di Alam Semesta termasuk matahari.
Cara pandang Alam Raya ini dinamakan: ajaran geosentris. Sri Paus,
pemegang Tahta Suci di Vatican, Roma, Italia, kala itu, ju-ga menganut
geosentris karena tidak menyalahi ajaran Kitab Suci, lalu menjadikannya
pegangan hidup umat Katholik di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi dengan kedatangan abad
pertengahan, Koppernigt (Copernicus 1473-1543) seorang ilmuwan dan astronom berkebangsaan
Polandia membantah, dan mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat
peredaran segala macam benda-langit. Bantahan ini melahirkan cara pandang Alam Semesta
baru, dinamakan: ajaran heliosentris. Galileo Galilei (1564-1642),
seorang cende-kiawan dan astronom dari Italia membuktikan kebenaran Koppernigt
dengan teleskop bikinannya sendiri. Namun malang, Galileo Galilei dinyatakan
bersalah dengan kelancangan membenarkan aja-ran heliosentris, sehingga terpaksa
menjalani tahanan rumah hingga akhir hayatnya. Baru pada bu-lan Mei tahun 1994,
600 tahun kemudian, hukuman itu dicabut oleh Paus Yohannes Paulus II, se-telah
terlebih dahulu meminta maaf didepan umum atas kekeliruan rekan pendahulunya,
yang saat itu menduduki Tahta Suci di Vatican.
Memasuki penggal kedua abad ke-20 ilmu
pengetahuan dan teknologi maju pesat menyebabkan Niels Armstrong, warga Amerika
Serikat menjadi manusia pertama yang menjejakkan kaki di permukaan bulan. Bermacam
satelit cerdas melanglang buana menjelajahi angkasa hingga melewati batas
tatasurya; dan orang-orang Batak pun lalu menyadari, bahwa ajaran Ompu
Simulajadi tentang Alam Semesta terbukti tidak sesuai kenyataan. Banua-Ginjang
bernama Surga ternyata tidak ada di atas sana. Banua-Tonga dimana manusia,
hewan, dan bermacam tanaman tumbuh hanyalah muka bumi bulat seperti bola.
Adapun yang dinamakan Banua-Toru tidak lain dari isi bumi yang bulat ba-gaikan
bola.
Lalu timbul pandangan dualisme terhadap
Alam Semesta dalam masyarakat Batak: sebuah berasal dari pandangan Ompu
Simulajadi berseayam dalam fikiran orang-orang Batak yang percaya, dan yang lain
kebenaran Alam Semesta terdapat diluar sana. Usai penggal kedua abad ke-20,
dunia pun memasuki milenium ke-tiga, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan cepat me-ngalihkan perhatian umat dari permukaan bumi ke
angkasa. Dalam ruang antar planit yang hampa, gaya tarik bumi tidak lagi menjadi
patokan, mana yang dinamakan atas atau bawah tidak lagi menjadi persoalan,
ternyata ajaran Ompu Simulajadi memperlihatkan “pemahaman baru”.
Dengan meletakkan Alam Benda, dimana:
manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya di tengah sebagai Alam
Kedua, maka menurut pemahaman baru, harus terdapat Alam Pertama
dari mana segala yang ada berasal. Kemudian usai menjalani kehidupan Alam Kedua, maka perlu ada lagi Alam Ketiga, kemana semuanya akan menuju. Adapun
ajaran Alam Semesta dari Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, terdapat: Banua-Ginjang
di Atas, Banua-Tonga di Tengah, dan Banua-Toru di Bawah, timbul
dalam dari pemikiran suku-bangsa Batak ketika itu ialah karena adanya
"medan gravitasi" di permukaan bumi yang menguasai segalanya. Dengan
kehadiran medan gra-vitasi orang lalu mengenal arah yang dinamakan: atas dan bawah.
Dan dari yang akhir ini lalu mun-cul berbagai macam arah lainnya.
Muncul dengan demikian Tolu Banua
Sadongan (TBS) pemahaman baru, masih
tetap seperti yang lama, tetapi berganti
nama menjadi: Alam pertama, Alam Kedua, dan Alam
Ketiga. Juga masih tetap kue talam yang berlapis tiga warna: putih,
merah, hitam. Ketiganya tidak perlu lagi tergolek di atas talam yang sangat luas,
akan tetapi mengambang bebas di angkasa bebas dari segala medan gravitasi.
Adapun dalam “pemahaman lama”, ialah yang dikemukakan oleh Ompu Simulajadi, se-belumnya
yakni: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru yang masih berada dalam medan
gravitasi bumi.
Apabila Alam Kedua dikatakan sebagai Banua
Na Marpamatang (Alam Yang Berbadan) bersifat kebendaan (material), maka
Alam Pertama dan Alam Ketiga seyogyanyalah berupa Banua Naso Marpamatang
(Alam Yang Tidak-Berbadan) alias Alam Transenden (Transcendant), karena sama-sekali
bersifat bukan benda (immaterial). Lantas bagaimanakah perwujudannya? Belum
lagi dapat diketahui orang hingga kini! Lalu mungkinkah Alam Pertama dan
Alam Ketiga sama? Tentu saja mungkin, akan tetapi keduanya boleh juga tidak
sama. Dua Alam dapat dikatakan sama, apabila dapat dibuktikan bahwa keduanya
sama, sebaliknya dua Alam dikatakan bebeda, kalau keduanya dapat dibuktikan tidak
sama. Peluang Alam Pertama dan Alam Ketiga sama, atau tidak sama, jelas sama banyaknya,
karena itu tidak satupun yang dapat mengalahkan yang lain.
Hanya hasangapon (martabat) saja dipercaya orang
Batak akan setia menemani Tondi (Batak),
Ha-ti-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) dalam perjalanan yang a-badi. Apabila
Alam Pertama sama dengan Alam Ketiga dan transenden, maka Tondi (Batak), Hati-sa-nubari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), maka yang demikian ibarat Tondi baru saja meninggalkan Alam Kedua, lalu
kembali lagi ke Alam yang sama. Ini mengingat-kan kepada reinkarnasi
kehidupan dunia. Manakala kedua Alam transenden ini berbeda satu sama lain,
tondi akan berjalan dalam lintasan garis lurus. Perjalanan demikian mengukuhkan
kembali a-kan pandanga TBS, sekaligus memperkenalkan pemahaman yang baru dari pandangan
Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, bahwa Alam Semesta ini tersusun dari tiga
Banua sebagaimana yang sudah diterangkan diatas.
Mungkin saja Ompu Simulajadi leluhur
suku-bangsa Batak pertama ada, telah sejak awal memiliki pandangan kedua,
dimana kue talam besar lapis tiga warna sekawan: putih, merah, hitam, benar-benar
mengambang di angkasa; bukan sebagaimana kue talam besar lapis tiga warna-warni
tergolek di atas talam amat luas, karena memang dari sejak dahulu suku-bangsa
Batak juga mengetahui akan adanya bermacams Alam termasuk transenden terdapat
di luar Alam kebendaan bersifat material. Akan tetapi, karena kebanyakan
masyarakat suku-bangsa Batak belum dapat mencernanya, maka disampaikanlah
gagasan kue talam besar lapis tiga sekawan warna tergolek di atas talam yang amat
luas. Benarkah sangkaan demikian, wallahualam bissawab, tak ada seorang pun
mengetahui!
Keluarga
Suku-bangsa Batak menamakan masyarakat terkecil berdiam di Banua-Tonga
dengan kata: suhut. Suhut artinya keluarga batih (nuclear family)
terdiri dari berbagai unsur: Amang (Ayah), Inang (Ibu) dan Pomparan (Keturunan),
disingkat AIP. Dan yang disebut akhir ini cerminan dari TBS pandangan Ompu
Simulajadi silam. Dalam masyarakat, dibedakan orang Batak “istilah” yang digunakan
untuk menyebut turunan laki-laki dari turunan perempuan. Hanya kepada keturunan
laki-laki saja kata “anak” digunakan, sedangkan kepada keturunan perempuan
digunakan kata “boru”. Dengan demikian keluarga dalam masyarakat Batak
dikatakan sempurna di Bonabulu, apabila seseorang telah mempunyai anak
laki-laki dan anak perempuan, sehingga dalam sebuah keluarga lengkap akan terdapat:
Amang, Inang, Anak, dan Boru, disingkat AIAB. Itulah sebabnya mengapa kepada
mereka yang melangsungkan pernikahan menurut adat Batak, salah sebuah pesan
penting yang disampaikan pada kedua mempelai agar: “maranak marboru hamu”;
artinya: mempunyai keturunan anak laki-laki dan keturunan anak perempuan. Dengan
demikian suhut atau keluarga batih dalam masyarakat Batak dinyatakan dengan AIP
sejalan dengan TSB, dan manakala dijabarkan akan menjadi AIAB.
Manusia
Suku-bangsa Batak memandang jolma (manusia)
yang hidup di Banua-Tonga, perwujudan lain dari Banua Tolu Sadongan (BTS) pandangan Ompu
Simulajadi. BTS lalu menjelma menjadi ”Tri Logi Batak” (TLB), yakni istilah populer
pandangan Ompu Simulajadi. Itulah sebabnya manusia berdiam di Banua-Tonga dinyatakan
tidak lain dari apa yang kenal dengan: “Tolu Na Marsada” atau “Tiga Yang Menyatu”,
artinya terdapat tiga bagian yang menyatu menjadikan manusia). Apakah yang dimaksud
dengan ketiga bagian tersebut, tidak lain dari: Tondi, Roha, dan Pamatang. Tanpa tondi,
insan akan hilang kemanusiaan terdapat dalam dirinya: semangat, emosi, kharisma,
motivasi, kemauan, hidup di Banua-Tonga; tanpa roha orang akan hilang akal-budinya:
bisuk (bijak), cerdas, ingatan (memory), ilham (intuisi); dan tanpa badan
(pamatang) manusia akan hilang keberadaan diri di Banua-Tonga, alias meninggal
dunia. Perlu diketahui, pamatang atau jasmani tidak lain dari “tandatangan manusia”
di atas ketas lembar kehidupan di Banua-Tonga, yakni muka bumi ini.
Dalam pelbagai acara maupun upacara adat
Batak, baik berupa siriaon (gembira) maupun siluluton (kesedihan), manusia diperlihatkan
sebagai “pira manuk na ni hobolan” (telur ayam yang telah dikebalkan), dan disebut
terakhir ini tidak lain dari telur ayam yang direbus. Manakala dibaca dari luar
kedalam, akan mengungkapkan pengertian sebagai berikut: kulit telur: Pakaian,
putih telur: Pa-matang, lapisan diantara putih dan kuning telur: Roha, dan
kuning telur itu: Tondi (Batak),
Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman).
Jiwa
Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris),
Seele (Jerman), (ruh/ jiwa/kharisma)
berada di Alam bukan-benda (Banua Naso-Marpamatang), menurut kepercayaan
suku-bangsa Batak dapat bepergian meninggalkan pamatang (jasmani) saat orang
sedang tidur, atau sakit, atau keadaan
tidak normal lainnya. Tondi adalah “Badan Halus” (Superbeing) yang terdapat dalam
setiap kehidupan, apapun bentuknya. Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris),
Seele (Jerman) membedakan seorang insan dari yang lain, diperlihatkan:
semangat, emosi, kharisma, dan ditampilkan keluar lewat “bahasa badan” (body
language). Diibaratkan mobil sedang melaju diatas jalan raya, apabila dikemudikan
oleh orang berbrda, akan memperlihatkan prilaku gerakan kendaraan yang berbeda
pula. Lewat analogi yang sama, manakala jasmani seseorang dihuni oleh Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman)
bukan miliknya dari sejak lahir, disebabkan penyakit misalnya, akan
memperlihatkan prilaku atau kelakuan keluar bukan aslinya. Walau bermacam
pengetahuan tentang tondi telah terkuak kepada manusia dari pengalaman hidup dan
pergaulan sehari-hari sampai dengan penyelidikan
ilmu pengetahuan di Banua-Tonga, akan tetapi alam bukan-benda pertama
yang terdapat dalam diri insan ini terus menyimpan teka-teki yang masih sedikit
sekali terungkap kepada manusia.
Akal
Roha (akal) juga terdapat di alam
bukan-benda. Inilah yang dinamakan kecerdasan sebenarnya (the true intelligence)
lawan dari kecerdasan buatan (the artificial intelligence) yang sekarang giat
di-kembangkan orang untuk mengendaliakn bermacam peralatan cerdas bikinan
manusia, antara lain: teknology bedah jarak jauh, aneka ragam robot, peluru
kendali, bermacam roket, hingga dengan sa-telit. Ini pula yang diungkapkan
Sokrates (470-399 SM), pemikir Yunani dari Athena pada zaman praklassik, yang
temuannya tentang hal ini disampaikan dalam bahasa Jerman pada dunia oleh
seorang filosof bernama: Windelband (1848-1915): “Die immateriele Welt ist
endeckt, und das Auge des Geistes hat sich nach innen aufgeschlagen”; seorang
penganut aliran idealisme subjektif bangsa Jerman. Dalam bahasa Batak: “Banua
naso-marpamatang tarungkap madung, mata ni roha manaili ma tu bagasan”; dan
oleh Dr. Mohammad Hatta diindonesiakan menjadi: “Alam tidak bertubuh
diketahuilah sudah, dan mata fikiran pun memandanglah kedalam”.
Sebagaimana: komputer, telepon genggam (gadget),
tablet (electronic reader), dan bermacam pe-rangkat pintar yang lain, adalah benda
yang merupakan perpaduan antara “perangkat-keras” (hard-ware) dengan “perangkat-lunak”
(software) untuk mampu melakukan bermacam pekerjaan. Roha pada mnusia dapat dinamakan:
“perangkat lunak insani”, disingkat perlunsani (human software, di-singkat: human-ware).
Perinsani bertindak menjembatan Tondi dengan Pamatang, sehingga yang disebut terakhir
dapat melakukan berbagai macam pekerjaan yang diimginkan oleh Tondi, berangkat
dari: kemampuan, keterampilan, keahlian, kecakapan, dan lain sebagainya yang telah
diajarkan dan dilatihkan pada seseorang. Kegiatan pemrograman Roha sesungguhnya
telah dimulai oleh ma-nusia sejak masih berada dalam kandungan, dilanjutkan
setelah lahir lewat: pendidikan, pelatihan, perjalanan jabatan, pengalaman
hidup, dan lainnya serta berlangsung tanpa henti selama hayat ma-sih dikandung
badan, berangkat dari pandangan hidup yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.
Roha (Alam bukan-benda) yang terdapat dalam diri manusia inilah yang
oleh segelintir negara si-lam: Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur; itu pun
digeluti jumlah kecil warganya (sumber daya manusia) lewat kegiatan akademik
berjenjang mulai rendah hingga tinggi, menjadikan berbagai ne-gara tersebut
dengan cepat menjadi terkemuka di dunia, setelah menerima buah fikiran
Yunani yang diantarkan bangsa Arab kedaratan
Eropa dalam Abad Pertengahan silam.
Diawali penghujung abad ke-19, lalu
sepanjang abad ke-20, dilanjutkan kini abad ke-21, berbagai negara di Eropa:
Inggris, Perancis, Jerman dan sekitarnya; kemudian Amerika Utara: Amerika Seri-kat;
lalu Asia Timur: Jepang; menjadi sadar akan apa yang dikatakan Sokrates tentang
keperkasaan “Banua Naso-Marpamatang” bersemayam dalam diri “Sumber Daya
Manusia” bernama Roha dari bangsa mereka masing-masing, lalu dengan cepat
mengembangkan: pendidikan, pelatihan, industri, laboratorium, penelitian, mencari
sumber daya alam, dan lain sebagainya dalam sistim ekonomi Laissez-faire (perdagangan
bebas). Sehingga dalam rentang waktu kurang dari 150 tahun, berhasil segelintir
negara ini lalu mengubah peradaban umat di muka bumi: dari yang serba berjalan
kaki dan menunggang ternak (kuda, lembu, dan lainnya) dimana-mana di
seluruh dunia, menjadi pera-daban dengan kendaraan bermotor: mobil, kereta api,
kapal laut, pesawatterbang, hingga menjelajah antariksa.
Penyampaian berita semula dilakukan orang
dengan bertemu fisik: dari mulut
ke mulut, beragam tetabuhan, surat, mengutus orang dan burung; lalu diubah menjadi gelombang elektromagnetik:
radio, telepon, televisi, ponsel, internet. Bekerja awalnya dilakukan orang di
kantor, pabrik, lapangan terbuka, dan lainnya, dengan: Information and Communication
Technology (ICT), atau Teknologi Komunikasi dan Informatika (TKI), lalu diubah
menjadi bekerja dimana saja orang mau me-lakukannya di muka bumi ini. Masih
banyak lagi kemajuan lain yang tidak mungkin dikemukakan kini satu persatu,
yang akan segera datang menuju ke yang semakin memudahkan oranng hidup di
Banua-Tonga atau muka bumi ini nanti.
Segelintir
negara dikemukakan diatas menjadi teladan umat, membuat lainnya: dari
Utara ke Sela-tan, dan dari Barat ke Timur, termasuk Timur Tengah, Asia
Tenggara, dan belahan bumi lain yang masih tertinggal, bergegas mengembangkan
“Roha=Perlunsani” Sumber Daya Manusia masing-masing bangsa menyimak apa yang
telah dikatakan oleh Sokrates. Mereka melakukan pemberantasan buta huruf, mengembangan
pendidikan berjenjang beragam ilmu dan keterampilan guna mengejar
ketertinggalan dari segelintir negara yang telah mengemuka disebutkan diatas.
Kendati Roha telah banyak terungkap oleh para
ahli bermacam negara maju lewat ilmu pengetahuan dan teknologi, laboratoriun, tidak
terkecuali industri, tambang, archeologi, penelitian anta-riksa, dan lainnya,
serta terekam kedalam tidak terbilang banyak buku, jurnal, dan lainnya; baik media
tradisional, elektronik, maupun digital; namun alam bukan-benda kedua terdapat
dalam diri manusia bernama “Roha” masih menyimpan banyak rahasia yang belum lagi
dapat diketahui orang sampai saat ini.
Pamatang
Pamatang (tubuh, badan, jasmani), adalah
bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau muka bumi atau Alam Fana. Jasmani
juga dapat disebut “cap jempol” seseorang di atas lembar kertas kehidupan di
muka bumi ini. Dengan badan, si A, si B, si C dan seterusnya dapat dikenali dan
dibedakan satu dari lainnya; mereka pun dapat saling berkenalan, bergaul dan
berbincang untuk bertu-kar fikiran. Jasmani bersama gerakannya memungkinkan
orang dapat dibaca: isi hati, sikap, budi pekerti, dan perangainya oleh orang
berpengetahuan.
Temuan Human Genome Project, atau Proyek
Gen Manusia, yang dipimpin Craig Venter dari Amerika Serikat, salah satu
segelintir negara terkemuka dunia, pada tanggal 11 Febrruari 2001 ber-hasil
mengungkapkan, terdapat 30.000 gen dalam setiap tubuh manusia yang
bertanggungjawab ter-hadap kehidupan insan, dan senantiasa membuka dan menutup
dalam melakukan tugasnya sepanjang jalannya waktu. Dan hanya gen-gen yang
membuka saja bertanggungjawab mengendalikan semua sel terdapat dalam tubuh
manusia bilangannya diperkirakan berjumlah 3.000.000.000. sel.
Tubuh manusia yang terdapat di Banua-Tonga,
demikian juga hewan dan tumbuhan, tersusun dari beragam sistim kehidupan rumit
(biologi), seperti: peredaran darah, pencernaan, pernafasan, pengindraan,
syaraf, dan banyak lainnya. Selain dari itu, keseluruhan sistim dikendalikan
puluhan ribu gen terbuka pada manusia, harus juga bekerjasama dalam orkestra
harmonis menjadikan tubuh yang sehat tempat tondi dan roha berdiam.
Kegagalan badan atau jasmani menjadi sehat oleh berbagai alasan, antara lain:
penyakit, kecelakaan, hingga dengan uzur, akan menyebabkan tondi dalam per-jalanan
waktu meninggalkan badan di Alam Kedua (Alam Benda) dan melanjutkan perjalanan
ke Alam Ketiga.
Meski jasmani telah banyak dipelajari para
ahli terutama bidang kedoktern di berbagai negara yang telah maju ilmu
pengetahuan dan teknologinya, namum bagian TLB yang paling banyak dan
sering dikaji di muka bumi, menjadi bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga
atau Alam Kedua ini masih menyimpan
rahasia yang belum dapat diungkapkan semuanya, apakah tubuh manusia itu sebenarnya?
Kedatangan Insan
Saat Tondi Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jer-man)
tiba di perbatasan Alam Pertama (bukan-benda) dengan Alam Kedua
(benda), dalam lang-langbuana Tondi sejalan “pemahaman baru”, tepatnya setelah
di turun dari Banua-Ginjang dalam menghampiri Banua-Tonga dalam “pemahaman
lama”, ia perlu terlebih dahulu menjemput benda (materi) guna menyatakan
keberadaan di Alam Kadua atau Banua-Tonga. Materi adalah sesuatu yang terdapat
di Alam Kedua dan tunduk kepada hukum Alam atau fisika, karena memiliki
berat (massa) dan menempati ruang.
Segala sesuatu yang ada, tetapi tidak memiliki
massa dan tidak pula menempati ruang, pasti bukan-benda (immaterial) dan akan
terdapat di Alam Pertama, dan/atau Alam Ketiga.
Perpaduan Tondi, Roha, dan Pamatang dalam Adat Batak
diperlihatkan dengan pertolongan “pira manuk na ni ho-bolan”. Tondi
kuning telur terdapat di tengah, Pamatang putih telur yang
mengitari. Sedangkan Ro-ha selaput yang terselip memisahkan kuning dari putih telur.
Pertemuan “Tondi” dengan “Pamatang”,
setelah yang pertama tiba dari Banua Ginjang berada di-perbatasan Banua-Tonga,
atau turun dari “Alam Pertama” dan tiba diperbatasan “Alam Kedua”; pada manusia
diawali dari konsepsi (conception) ketika sepasang insan, yakni: seorang laki-laki
dengan seorang perempuan berhubungan badan. Konsepsi tidak lain dari Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh
(Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman)
yang turun dari Banua Gin-jang, atau Alam Pertama, yang menjemput badan
(materi) dari Banua-Tonga, atau Alam Kedua, untuk menciptakan benih manusia yang
aktif melakukan pembelahan sel. Pembelahan sel berlang-sung berkesinambungan menciptakan janian,
dan yang akhir dapat berkegiatan terus-menerus ka-rena mendapat pemasukan bahan
(materi) dari ibu yang mengandung di Banua-Tonga atau Alam Kedua, hingga pada
saatnya lahir ke dunia sebagai bayi.
Setelah lahir, bayi melanjutkan kegiatan
menghimpun bahan (materi), kini diluar kandungan dengan menyusu kepada ibu,
juga makanan dan minuman yang diberikan langsung oleh orang tua, baik untuk
menambah berat dan menambah tinggi badan. Dengan memelihara kesehatan selama
per-tumbuhan, maka bayi akan menjadi:
anak, akil balig, remaja, dan memasuki usia dewasa.
Memasuki usia dewasa, kegiatan menghimpun
bahan (materi) berlanjut terus, tetapi
bukan lagi dari pemberian orang tua, melainkan dari usaha mencari
nafkah. Pada usia dewasa materi dihimpun melalui kegiatan: makan, minum,
bernafas, dan bergerak kebanyakan digunakan untuk metabolisme (pertukaran zat)
tubuh berlangsung cara kimia, seperti: perbaikan jaringan tubuh, menyediakan te-naga
(energi), pertukaran zat, dan lainnya, untuk memelihara jasmani agar tetap sehat
sampai ke batas usia.
Sementara pada hewan, ada yang mengikuti
cara manusia, tetapi tidak sedikit yang menyiapkan pinjaman materi bagi generasi
dengan telur, dan kehidupan dipicu panas pengeraman. Pada tana-man telur
diganti benih (bibit) dan kehidupan dipicu lembab (air) suhu lingkungan.
Menurut ahli kesehatan, pertukaan zat berlangsung
tidak berkeputusan dalam tubuh manusia selama hayat membuat yang disebut
terakhir, atau bukti kehadiran manusia di muka bumi, berganti selu-ruhnya,
mulai kulit yang terdapat di permukaan hingga bagian tubuh terdalam, sekitar
tujuh tahun tahun sekali. Itulah sebabnya mengapa bayi lahir ke dunia menjadi
besar dengan kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak; bertambah
beratnya, berubah wajahnya, berganti bentuknya, ber-tambah pengetahunnya, dan
lain sebagainya sampai dewasa. Seorang anak usia diatas 7 tahun de-ngan
demikian tidak akan lagi menyimpan benda (materi) yang diperoleh dari kedua
orang tua saat konsepsi. Kini seluruh benda (materi) yang ada dalam tubuh si anak
semata perolehan kegiatan makan dan minum pemberian orang tua saja. Kedua orang
tua anak ini, menurut ahli kesehatan tadi, juga telah beralih dari sepasang
manusia yang pernah meminjamkan benda (materi) kepada si anak, menjadi hanya pewaris
dari pasangan orang tua yang pernah memin-jamkan benda (materi) kepada anak waktu
yang silam. Hubungan pasangan orang tua dengan anak yang kini tersisa hanya penje-lasan
sejarah saja.
Metabolisme tubuh yang didukung kegiatan:
makan, minum, bernafas, dan bergerak membuat setiap manusia menukar tubuh
(jasmani) secara berkala, menyebabkan “semua
orang sama” dimana-mana di seluruh dunia ini, terkecuali yang diatur gen
sebagainana yang diungkapkan Proyek Gen Manusia, seperti: bangun tubuh, warna
kulit, bentuk wajah, dan berbagai hal yang bersifat khusus lainnya, meskipun
hal-hal yang disebutkan belakanganr tidak banyak pengaruhnya dalam hidup
sehari-hari insan, selain untuk pengenal diri atau identitas. Karena itu
benarlah apa yang dikatakan orang tua-tua di Bona Bulu silam, agar anak yang sudah
dewasa diperlakukan sebagai “dongan” (teman), bukan lagi “anak” sebagaimana
sebelumnya. Ini disebabkan anak yang sudah menjadi dewasa telah sempurna “metamorphosa
badannya” menjadi orang lain lewat pergantian jasmani berlangsung berkali-kali
sebagaimana yang telah dijelaskan ahli kesehatan diatas.
Orang yang telah mencapai umur 63 tahun
setidaknya telah berganti tubuhnya 9 kali lewat pertu-karan zat yang berjalan 7
tahun sekali. Pelaku kejahatan menjalani hukuman penjara lebih dari 7 tahun
dengan demikian telah digantikan oleh serang pewaris bukan lagi pelaku
kejahatan, karena tubuh yang terdapat padanya tidak pernah telibat kedalam
kejahatan dituduhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pelaku kejahatan
tercantum dalam BAP sebetulnya telah meninggalkan penja-ra lewat metabolisme
tubuh yang tidak diketahui sipir penjara yang mengawasinya.
Tampak disini hukum alam yang bermain di
dunia renik (mikro kosmos) yang tidak harus sejalan dengan keputusan hakim
(penegak hukum). Sebaliknya hidup insan di Banua-Tonga sangat ter-gantung
kepada aturan biologi memanfaatkan beragam molekul yang menjadikan sel-sel
tubuh mnusia. Molekul-molekul ini masih lagi tergantung dari bermacam atom yang
menyusunnya. Selain dari itu, tidak dapat dipungkiri peran medan gravitasi
dunia renik (gaya tarik-mearik antar atom dan gaya antar molekul) yang membentuk
benda, termasuk yang menjadikan tubuh mahluk hidup. Tan-pa kepatuhan dan
kesetiaan medan gravitasi dunia renik menunaikan tugas yang diemban
masing-masing, maka insan bernama manusia terbentuk lebih dari 70% air dan
sedikit tanah (Carbon, Kal-sium, dan sedikit lainnya) ini, tidak lebih dari onggokan
atom tak-bernyawa berserakan dalam ru-ang yang tidak ada gunanya.
Akhirnya, masih terdapat medan gravitasi
bumi yang membuat manusia dapat menjejakkan kaki di muka bumi atau berbagai
benda-langit lain. Kegagalan medan gravitasi akhir ini melaksanakan tu-gas,
berakibat semua benda yang ada di muka bumi akan melayang berserakan di
angkasa, juga ti-dak trekecuali mahluk yang bernama manusia.
Orang-orang yang telah meninggal, sesungguhnya
telah mengembalikan tubuh mereka berulang ka-li sedikit demi sedikit kembali ke
Banua-Tonga atau Alam Kedua, lewat pertukaran zat atau me-tabolisme tubuh, akan
tetapi yang dikembalikan belakangan ialah yang dimilikinya 7 tahun tera-khir.
Tubuh manusia kata orang kebanyakan terdiri dari daging dan tulang, akan tetapi
ilmu penge-tahuan membuktikan jasmani ini tidak lain dari tempayan atau kendi
yang penuhi air. Hal ini dise-babkan lebih dari 70% berat badan manusia hanyalah
air, dan kurang dari 30% yang berupa unsur-unsur
kimia, seperti: karbon (C), kalsium (Ca), kalium (K), besi (Fe), fosfor (P) dan
lainnya tidak terkecuali unsur langka bumi (rare earth), sebagaimana terlihat
dalam tabel unsur-unsur kimia yang pertama kali diungkapkan oleh Dmitri
Ivanovich Mendeleev (1834-1907). Kembali tampak disini, dari apa yang membentuk
tubuh manusia, ternyata “semua orang sama”
dimana-mana di seluruh dunia ini, tidak lain dari benda (materi) pinjaman dari
Banua-Tonga. Perbedaan orang gemuk dari yang kurus lebih disebabkan perbedaan banyak
air yang ada pada orang gemuk ketimbang beragam unsur kimia lainnya.
Orang
meninggal dunia sesungguhnya manusia yang telah berada di perbatasan antara Banua-Tonga
dengan Banua-Toru, atau antara Alam Kedua dengan Alam Ketiga, dalam perjalanan
hidup-nya. Pada saat itu, Tondi (Batak),
Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) mengembalikan pamatang atau jasmani ke
asalnya, yakni Banua-Tonga, atau Alam Ke-dua, karena tubuh manusia hanyalah
barang pinjaman. Ini berarti segala mahluk hidup: manusia, hewan, dan tanaman, akan
mengembalikan badan (jasmani) bersifat kebendaan (materi) melalui dua tahap, yakni:
pengembalian sedikit demi sedikit (partial) dan pengembalian menyeluruh atau pe-ngembalian
belakangan. Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan bahwa setiap jasmani
(materi) yang dikembalikan perlu di daur ulang untuk menghindarkan “sampah
biologi” (biological waste) yang akan mencemari lingkungan. Daur ulang dikerjakan
bermilliar bakteri yang berdiam di tubuh masing-masing mahluk, yang
sehari-harinya bertugas mengukir tubuh makhluk agar terlihat sekat dan bersih.
Bakteri-bakteri lalu melepaskan gas penyengat indra penciuman yang tersebar ke
udara. tujuannya untuk mengundang pendaur ulang lain segera datang guna
menyelesaikan peker-jaan secepat mungkin.
Tubuh yang dikembalikan belakangan berada di
perbatasan antara Banua-Tonga dengan Banua-Toru, atau Alam Kedua dengan Alam
Ketiga. Bermacam adat-istiadat dan agama yang dianut manusia di muka bumi telah
mengajarkan, untuk menghindarkan pencemaran sampah biologi mengotori
lingkungan, daur ulang dapat dilakukan lewat: pemakaman, pembakaran (kremasi),
penenggela-man, dan pembiaran. Pada pemakaman, air kembali ke Banua-Tonga diserap
akar tanaman, kemudian menguap ke udara, menjadi awan, menjadi hujan, akhirnya
dan kembali ke laut. Beragam unsur kimia lain dikembalikan ke tanah lalu diserap
tanaman, dimakan hewan, dan dikonsumsi manusia. Pada pembakaran, air akan mennguap,
naik ke udara menjadi awan, akhirnya kembali lagi ke laut. Bermacam unsur kimia
yang ikut terbakar menjadi asap, ada yang menjadi abu lalu disimpan keluarga di
rumah atau tempat perabuan. Pada penenggelaman, air kembali bergabung dengan yang
lain. Bermacam unsur kimia mengendap didasar badan air, seperti: kolam, sungai,
danau, laut, dan samudra, menjadi makanan tanaman dan binatang laut. Pada
pembiaran, pengeringan di udara terbuka membuat air segera meguap menjadi awan,
akhirnya kembali lagi ke laut. Pada yang akhir ini terdapat peran burung manakala
ditempatkan di suatu ketinggian di udara terbuka; atau binatang buas bilamana diterlantarkan
dalam rimba. Ada pulan yang disimpan dalam bangunan, gua, dan lain sebagainya dalam mendaur ulang jasmani
yang dikembalikan belakangan.
Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan
sampah biologi dikembalikan partial dan bela-kangan akan menjadi “rantai
makanan” (food chain) pertama sangat diperlukan makhluk hidup: manusia, hewan
dan tanaman. Rantai makanan pertama membebaskan tenaga diperlukan manusia, beragam
hewan dan tanaman menjalani kehidupan di Banua-Tonga atau Alam Fana serentang
hayat. Rantai makanan ragam ini bekerja membebaskan
tenaga (energy) matahari yang terdapat dalam jasad dikembalikan lewat penguraian
(decompose) kedalam beragam unsur kimia yang ter-cantum dalam tabel Mendeleev.
Adapun rantai makanan kedua ialah yang
merakit kembali (recompose) bermacam unsur kimia yang telah terurai, kembali menjadi:
butiran, bijian, buah, dan lain sebagainya dikerjakan tumbuhan dibantu proses
photosynthesis oleh sinar matahari guna menyimpan
tenaga (energy); juga oleh bermacami hewan menghasilkan: susu, daging,
madu, dan lainnya. Itulah sebabnya mengapa tanaman sangat memerlukan zat makanan
yang mengandung unsur-unsur kimia dari daur ulang pe-ngembalian partial dan
belakangan untuk kelangsungannya. Melalui daur ulang dan kesegeraannya,
pencemaran lingkungan di Banua- Tonga atau Alam Kedua oleh sampah biologi dengan
demikian dapat dihindarkan.
Bagi tubuh orang sehat, Tondi dan Roha
selalu menyertai Badan berada di Banua Tonga, atau Alam Kedua. Tidak ada
orang yang dapat memperkirkan, berapa lama Tondi dan Roha akan menyertai
jasmani pada mahluk hidup, hingga tiba batas waktu yang telah ditentukan.
Ketika waktu itu tiba, Tondi akan mengembalikan badan di perbatasan Alam Kedua
dan Alam Ketiga. Dan setelah berpisah dari badan, tidak ada lagi yang dapat
diketahui orang tentang perjalanan Tondi selanjutnya kembali ke asalnya di Alam
Pertama atau Banua-Ginjang.
Dinamika Zaman
Pada awalnya kehidupan masyarakat Batak di beragam
tempat di Bonabulu silam berjalan perlahan atau alami, yang dikenal berlangsung
evolusioner. Gelombang petama kedatangan agama Islam ke Nu-santara pada abad
ke-13 silam, belum menyebabkan perubahan berarti dalam kehidupaan ma-syarakat
di Tanah Batak. Akan tetapi dengan datangnya gelombang kedua kedatangan agama
Islam dari Sumatera Barat terletak di selatan Tanah Batak lewat Perang Padri
(1821-1837), benar-benar menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan
masyarakat, atau berlangsung revolusioner.
Pemerintah Hindia Belanda (1833-1942) yang
kemudian menggantikan kaum Paderi, melakukan perubahan ce-pat atau revolusioner
di Tanah Batak memperkenalkan kerja rodi (kerja paksa) mem-buat jalan dan
jembatan. Pemerintah Hindia Belanda yang kolonial, kala itu juga mengharuskan
pa-ra Raja dan rakyat membayar belasting (pajak). Dengan sistim pemerintahan
terpusat (sentralistis) yang pertama kali diperkenalkannya di seluruh Tanah
Batak, para Raja dan rakyat lalu dijadikan bagian dari pemerintah Hindia
Belanda seberang lautan. Para Raja di Tanah Batak diwajibkan memungut bela-ting
bersasaran pendapatan ditetapkan (bertarget). Imbalan yang diberikan kepada
masyarakat pada ketika itu: adanya pemerintahan, layanan masyarakat, jalan
raya, jembatan, dan pendidikan bagi anak-anak pribumi.
Pemerintah Fascist Jepang (1942-1945) yang
menggantikan pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak, juga tidak kalah
kolonialnya, memberlakukan perubahan cepat di Tanah Batak, bahkan de-ngan sikap
kasar dan kekejaman senjata. Jepang mengharuskan dibentuk barisan-barisan
Zikedan dan Bogodan pada setiap kampung di Tanah Batak untuk menghimpun orang muda
guna dijadikan “heiho” (pembantu prajurit Jepang) dan “romusha” (pekerja rodi
Jepang). Mereka juga memaksa rakyat menyerahkan hasil bumi, baik yang dibayar
dengan uang Jepang maupun yang tidak memperoleh bayaran samasekali. Setelah
Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu pimpinan Amerika Serikat di penghujung
Perang Dunia Ke-II silam, pemimpin pergerakan NRI (Negara Republik Indonesia)
di Tanah Batak lalu mengambil alih pemerintahan. Kaum pergerakan anak-negeri
juga tidak luput dari melakukan perubahan cepat di Tanah Batak, dengan
melakukan revolusi untuk menolak kembali datangnya Belanda menjajah Tanah-air, setelah
Jepang bertekuk lutut di negeri-nya kepada Amerika Serikat, lalu menjanjikan kehidupa
yang bebas dari kemiskinan dalam alam kemerdekaan.
Memasuki revolusi kemerdekaan, pemerintah
NRI keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung mengeluarkan ketetapan
Residen Tapanuli No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal
11 Januari 1947, ditandatangani Dr. F.L. Tobing. Adapun isi ketetapan Residen
Tapanuli itu ialah: Para Raja yang masih menjabat pada pemerintahan, maupun
mereka yang masih berurusan dengan kegiatan lingkungan publik di Tanah Batak,
apapun jabatan diemban, diberhentikan dengan hormat. Adapun para pejabat
pemerintah pengganti yang akan menyelenggarakan pemerintahan selanjutnya di
Tanah Batak, akan dipilih secara demokratis oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Dengan demikian seluruh pemerintahan yang awalnya masih berlangsung menurut
adat Ba-tak setempat, masih diperkenankan oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk
tingkat Bonabulu/Huta silam, sejak saat bersejarah itu terpaksa harus tersingkir
dari wilayah publik di Tanah Batak, lalu berhijrah ke ranah
seremonial perhelatan Adat Batak semata.
Gelombang perubahan cepat yang melanda
Tanah Batak, dimulai: Perang Paderi, penjajahan Hindia Belanda, penjajahan Facist
Jepang, revolusi dan perang kemerdekaan, hingga memasuki zaman kemerdekaan;
telah menyebabkan masyarakat Batak mulai dari Bonabulu hingga perantauan (orang
Batak diaspora) menjadi terbuka dan menerima kenyataan. Kini memasuki abad ke-21,
suku-bangsa Batak harus pula menerima bermacam pengaruh lain, termasuk dampak
globalisasi dunia (Interna-sionalisasi) dengan masuknya: pandangan hidup kemasyaakatan
dengan aneka ragam agama, ser-buan budaya dari beragam bangsa, aneka musik populer,
ilmu pengetahuan aneka ragam disiplin dan teknologi, yang mengantarkan insan
sedunia memasuki peradaban millenium ketiga.
Apapun berbagai pengaruh yang telah mendera
masyarakat di Tanah Batak, apapun ragam maupun bentuknya, mulai dari waktu
silam hingga dengan sekarang, baik kepada masyarakat yang masih berdiam di Bona
Bulu maupun yang telah berada di perantauan, kenyataan masih tetap memper-lihatkan
TBS sebagaimana pandangan Ompu Simulajadi tentang segala yang ada, dan tetap
saja serba-tiga kenyataannya, yakni:
Pertama. Dengan munculnya keragaman agama dianut
berbagai bangsa di dunia, masyarakat Batak di Bonabulu demikian juga mereka
yang telah berada di perantauan lalu menganut ajaran mono-theisme, yakni ajaran
beriman kepada Tuhan Yang Esa yang tunggal, karena banyak persamaannya
dengan pandangan Ompu Simulajadi silam. Kepada mereka yang beragama Islam, ini
berarti mengakui hadirnya Tuhan Yang Maha Esa, maknanya tidak ada Tuhan selain
Allah. Dan ini memperlihatkan Semangat Ketuhanan; yang dalam bahasa Arab
diungkapkan oleh rangkaian kata: Hablumminallah.
Kedua. Dengan timbulnya bermacam pengaruh budaya
dan ilmu pengeauan dari segala penjuru dunia mempengaruhi kehidupan masyarakat
Batak dari Bonabulu sampai perantauan, menyebabkan adat-istiadat warisan leluhur
diperkaya, dan pengayaan datang dari lingkungan Nasional dan lingkungan Inter-nasional.
Bermacam pengaruh tadi membuat suku-bangsa Batak melebarkan pan-dangan hidup:
diawali dari kesukuan yang sempit di Bonabulu silam, menjadi Nasional yang
lebih luas, kemudian Internasional bersifat gelobal; sekaligus menjadikan suku-bangsa
Batak bagian dari masyarakat dunia. Kepada mereka yang beragama Islam ini
menunjukkan Semangat Kemanusiaan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan
dengan rangkaian kata: Hablumminannas.
Ketiga. Perkebangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan
kemajuan: sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat suku-bangsa Batak mulai
dari Bonabulu, lalu Nasional, dan Internasional, membuat suku-bangsa Batak dari
Bona Bulu hingga tanah perantauan turut me-nikmatinya. Karena itu harus ikut pula
bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup, tidak semata tingkat Bonabulu,
tetapi pula Nasional dan Internasional hingga ke tepian Alam Semesta. Bukankah
dalam Al-Quran ‘ul Karim tercantum surat 2:11, yang menyerukan agar: “…. jangan
kamu membuat kerusakan di muka bumi….”, dan diulang kembali dalam bermacam
surat-surat yang kemudian menyusul. Kepada mereka yang beragama Islam ini
memperlihatkan Semangat Memelihara Lingku-ngan Alam Semesta; yang manakala
diutarakan dalam bahasa Arab akan melahirkan untaian kata: Hablumminalkaun.
Dengan demikian Trilogi: Hablumminallah, Hablumminannas, dan
Hablumminalkaun, menjadi Sekawan Kesepakatan Manusia (SKM), tidak asing lagi
di telinga suku-bangsa Batak beragama Islam, karena memang sejalan dengan
pandangan Ompu Simulajadi silam tentang Alam Semesta, tentang adanya: Banua-Ginjang,
Banua-Tonga, dan Banua-Toru mengitari kehidupan mahluk di bumi ini. Hablumminallah
menjadi pertanda penyerahan diri manusia kepada Al-Khalik Sang Pencipta dalam
arah vertical; lalu Hablumminannas ialah persaudaraan sesama manusia
bercorak horzontal di permukaan bumi, sedangkan Hablumminalkaun
menjadi tanggungjawab manusia kepada lingkungan hidup tempat keberadaan
yang menampung semuanya, mulai dari dimana kaki manusia berpijak hingga
ke tepian Alam Semesta.
Apapun agama dianut suku-bangsa Batak yang mengatur hubungan manusia
dengan Al-Khalik yang vertikal, tidak diragukan lagi berawal dari
pandangan Ompu Simulajai silam. Sedangkan hubungan antara sesama manusia yang horizontal
berangkat dari adat Batak Dalihan Na Tolu di Bonabulu bersifat lokal, lalu meningkat
menjadi budaya bangsa Indonesia bersifat nasional, akhirnya meluas menjadi budaya
antarbangsa atau dunia bersifat Internasional. Adapun kepedulian suku-bangsa
Batak terhadap lingkungan tempat berdiam di muka bumi dimulai peradaban zaman
batu corak lokal, berkembang
menjadi peradaban zaman logam yang global, lalu berkembang menjadi peradaban
ilmu pengetahuan dan teknologi, disingkat Iptek, meliputi Alam Semesta.
Dengan demikian Agama, Adat-istiadat, dan
Iptek telah merupakan Sekawan Kebutuhan Manusia (SKM) untuk mencapai: perdamaian, kemajuan,
dan kesejahteraan umat hidup di muka bumi ke-depan menelusuri abad ke-21 atau
Millenia ke-III yang sedang berjalan. Khusus untuk suku-bangsa Batak SKM menjadi
kelanjutan dari pandangan Ompu Simulajadi di Bonabulu silam.
Revolusi Industri
Meski peradaban di Timur Tengah telah sangat maju
memasuki tarikh Masehi silam, akan tetapi “revolusi industri” bermula dari
daratan Eropa jauh di bagian Utara, ketika itu masih tergolong kampung dibandingkan dengan yang disebut
terdahulu. Gelombang pertama “revolusi industri” muncul tahun 1760 hingga 1820 dan 1840
(penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), pada saat itu di Inggris James
Watt memperkenalkan mesin-uap (steam engine) pertama temuannya kepada dunia; dilanjutkan gelombang kedua dari tahun 1840 hingga tahun 1870, yang mengawali peru-bahan
besar kehidupan manusia pada bermacam bidang, antara lain: ekonomi, budaya,
pendidikan, kemasyarakatan, dan lainnya di daratan Eropa Barat. Revolusi
industri menemukan momentum de-ngan tersebarnya jaringan jalan kereta-api dihela
lokomotiv-uap yang membakar batubara di Ero-pa, dan meluas hingga ke
Wladiwostok, di ujung Timur kekaisaran Rusia silam. Jaringan jalan-raya juga menyusul
di Eropa dengan diperkenalkannya mesin bensin diperkenalkan Nikolaus Otto dan
mesin diesel oleh Rudolph Diesel, dari Jerman. Hingga dengan timbulnya revolusi
industri di Eropa, umat dimana-mana
deseluruh penjuru dunia bepergian kemana-mana hanya dengan ber-jalan-kaki saja,
paling banyak mengendarai ternak peliharaan yang telah jinak, atau kereta
dihela hewan peliharaan yang telah dijinak-kan. Adapun ternak yang banyak digunakan
untuk angkutan penumpang dan barang dimana-mana di dunia ketika itu, ialah:
kuda, lembu, sapi, unta, dan lain se-taranya.
Revolusi industri yang tampil abad ke-18, lalu mengantarkan
manusia menguasai “teknologi angku-tan” memudahkan orang untuk bepergian di
muka bumi menggunakan bermacam moda transpor-tasi, seperti: jalan-baja,
jalan-raya, jalan-air, dan jalan-udara. Layanan angkutan kemudian berkem-bang
pesat, dimulai angkutan kota besar bersifat lokal atau setempat, lalu angkutan
antar kota dan propinsi yang bersifat kawasan atau regional, dan angkutan antar
negara yang bersifat antarbangsa atau internasional. Dengan demikian siapapun yang
kini berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat,
suku-bangsa, dan bangsa, walau tinggal berjauhan satu sama lain, dipagari lagi
jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dapat dengan mudah saling
berkunjung untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di
muka bumi, dengan hanya membeli tiket, berkat adanya beragam moda angkutan yang dibidani revolusi industri
silam.
Revolusi Digital
Menghampiri penghujung abad ke-20 silam, dua abad pasca
revolusi industri, muncul pula “revolusi elektronik”, dibidani: “ICT”
(Information and Communication Technologi) atau “TIK” (Teknologi Informasi dan
Komunikasi), memungkinkan orang dapat bercakap-cakap sekaligus ber-tatap muka langsung (in real time) memanfaatkan
“Perangkat Elek-tronik Bergerak”, disingkat PEB (Electronic Mobile Device,
disingkat EMD) dapat dikantongi dan dibawa kemana saja pergi, dina-makan:
gadget (gawai). Dengan demikian siapapun yang berdiam di muka bumi, mulai: pero-rangan,
keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, meski berada saling berjauhan,
dipagari la-gi jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dengan mudah
dapat bercakap-cakap untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan
dimanapun di muka bumi ini, dengan hanya membeli pulsa lewat gawai, dengan
diperdagangkannya PEB bermacam merek di pasar perangkat elektronik, dilahirkan
“revolusi elektronik”.
Informasi Yang Terbuka
Kedua revolusi masing-masing: “transportasi” dan
“telekomunikasi”, membuat mitologi bermacam komunitas, mulai: keluarga,
masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa berbagai kawasan di muka bumi sejak ratusan
ribu tahun yang silam, berisi antara lain: sejarah, ceritra, hikayat dari
luhur, dan lain sebagainya yang telah menjadi budaya, demikian pula berbagai
hal sakral; aneka ragam kepercayaan sampai keimanan beragama, dari:
perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, lalu menjadi terbuka
pada dunia oleh teknologi transportasi dan komunikasi. Mitologi yang menjadi “harta
hati-sanubari” insani bermacam komunitas beragam bangsa, dari: perorangan,
keluarga, ma-syarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang terdapat di muka bumi, lalu
menjadi bahan atau materi kajian perbandingan kalangan cerdik-pandai yang gemar
bekerja menemukan kebenaran yang ber-sifat hakiki.
Harta insani bersemayam dalam hati-sanubari kini
lebih dari 7 Milliad manusia di dunia dari ber-bagai bangsa tampil tidak bersamaan
ke muka bumi nenempuh perjalanan waktu panjang silam, lalu dalam waktu singkat
dipertukarkan diantara sesama orang dalam kegiatan silaturrahmi, baik yang
didekatkan oleh “sarana transportasi” oleh kemudahan bepergian dengan bermacam
kendaraan, maupun didekatkan oleh “sarana komunikasi” PEB atau “gadget (gawai)”
beragam merek tersebar luas yang
diperdagangkan di pasar. Bermacam kelompok berkepentingan lalu memanfaatkan
harta insani bersemayam dalam hati-nurani insani ini menjadi bahan atau materi
diskusi, kajian ilmu pe-ngetahuan beragam disiplin dikuasai untuk menemukan
kebenaran mutlak atau absolut. Analisa perbandingan, dari: budaya, nilai sakral,
kepercayaan, sampai keimanan, dan lainnya berkembang, mulai dari negara maju
hingga yang masih berkembang. Publikasi hasil kajian, mulai yang dilakukan
orang awam hingga para ahli berbagai disiplin menarik perhatian media hingga
penerbit untuk disebarkan ke masyarakat, mulai dari talkshow hingga penjualan
buku. Publikasi jelas rawan menimbulkan sengketa pendapat diantara mereka yang
pro dengan yang kontra dan menimbulkan pertikaian tidak diinginkan antara kaum
pewaris harta insani yang tersebar dalam masyarakat, mulai dari: lokal,
regional, hingga internasional.
Untuk menjaga Ketenteraman Masyarakat Dunia, disingkat
KMD, (The Wellbeing of World Society, disingkat W2S) terusik oleh “Teknologi
Transportasi dan Komunikasi”, disingkat T2K (Trans-portation and Communication
Technology, disingkat TCT) dibidani “revolusi industri” dan “revolusi digital”
yang melahirkan bermacam sarana transportasi dan komunikasi, maka untuk menghindarkan
keresahan para pewaris harta karun insani dari leluhur, kepercayaan, agama dan
beragam nilai sakral yang ada, sudah tiba saatnya membentuk: Majelis Mitologi
Dunia, disingkat MMD (World Mithology Council, disingkat WMC. Adapun tugas MMD ialah
menyediakan “tempat” mengatasi persoalan sekaligus “tenaga ahli” dibidangnya”,
mulai persoalan yang telah timbul hing-ga dengan yang berpotensi menimbulkan
masalah. Dengan demikian berbagai macam harta karusn insani bersemayam dalam
hati-nurani umat bermukim di muka bumi ini, terutama berkaitan dengan
kepercayaan, keimanan agama, bernilai sakral, dan lainnya dapat diantisipasi lalu
dijembatani, sehingga kebersamaan hidup umat di planit biru ini selalu dapat berjalan
harmonis, dan dinaungi kerukunan.
--------------------selesai--------------------
Catatan
Penulis:
Paukpauk Hudali,
Pagopago Tarugi; Na Tading Taulahi, Na Sego Tapauli.
(Dikutip dari
tarombo Marga Siregar Bunga Bondar yang dikerjakan Tulang: Sutan Habiaran).
Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang
Residence, G1
Jalan Pamulang 2,
Pondok Benda. Kode Pos: 1541
Tangerang
Selatan, Banten. Indonesia.
11 Mei 2016
Tel.
021-74631125.


No comments:
Post a Comment